BugisPos, Makassar — Tak terasa usia BugisPos telah menginjak usia matang 27 tahun. Media besutan Almarhum Usdar Nawawi ini, menyelenggarakan Hari Jadi ke-27 tahun di Kafebaca Jalan Adhyaksa nomor 2 Makassar, Minggu, 11 Januari 2026.
Acara yang dihadiri oleh awak media BugisPos ini, juga dihadiri oleh sejumlah seniman, penulis dan akademisi di Kota Makassar, seperti Yudhistira Sukatanya, Prof Muhammad Asdar, Ishakim, Anwar Nasyaruddin, Dr. Shaff Muhtamar, Rahman Rumaday, Thahir Rahman, Asrul Sani, Rusdi Embas dan juga Ketua Penbis Heny Suheny beserta anggota yang terdiri dari Wanti Eldrin, Susi, Hani serta Anas yang juga seorang Coach Publik Speaking dari Surabaya.
Arwan D. Awing Direktur BugisPos Group dalam pengantarnya membuka acara menyampaikan sekilas tentang media ini sehingga dapat eksis hingga saat ini.
Ia menceritakan awal berdirinya BugisPos pada 11 Januari 1999, jatuh bangunnya hingga bertransformasi menjadi media online hingga saat ini membentuk grup media.
“BugisPos bertransformasi menjadi media online pada tahun 2012 dan menjadi media online ke-tiga di Sulsel yang ada saat itu,” terangnya.
“Tentu dengan doa dan dukungan dari teman-teman semua, BugisPos dapat tetap eksis dan selalu berjuang menyuarakan suara nurani rakyat,” pungkasnya.
Sementara itu, Yudhistira Sukatanya memberikan nasihat-nasihat kepada para wartawan dan juga manejemen BugisPos agar selalu menjaga karakter dari media.
“Namun yang terutama dari itu semua, adalah bagaimana menjaga integritas dari masing-masing personil dari media itu sendiri,” singkatnya.
Di sisi lain, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Prof Muhammad Asdar mengaku sangat tertarik sewaktu diundang ke acara ini.
“Mengapa saya tertarik, karena usianya yang 25 tahun, tak mudah sebuah organisasi dapat bertahan hingga usia 25 tahun. Ini berarti dia telah menjalani 75 persen keseimbangan berusaha,” ungkapnya.
“Karena usia organisasi 2 hingga 3 tahun itu tahap perjuangan namun 3 tahun ke atas, maka organisasi itu sudah memiliki keseimbangan,” tuturnya.
Ia juga memperkuat pernyataan dari Yudhistira Sukatanya terkait integritas sebuah media dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran di masyarakat.
“Di mana dengan integritas akan menumbuhkan trust di masyarakat,” tutupnya.
Sekilas BugisPos
BugisPos hadir di Makassar pada tanggal 11 Januari 1999 dan didirikan oleh Usdar Nawawi melalui Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) nomor, 199/SIUPP/Menpen/1999 dengan nama Yayasan Pena Rakyat sebagai penerbit.
Tahun 1999 hingga tahun 2012, BugisPos merupakan Tabloid Mingguan dengan nama Tabloid BugisPos. Namun memasuki tahun 2012, BugisPos bertransformasi menjadi media online dengan nama BugisPos.com.
Walaupun sempat setahun berubah nama menjadi BugisPos Online,Com, BugisPos kembali menjadi BugisPos.com hingga saat ini.
Dikarenakan oleh Dewan Pers membuat suatu peraturan bahwa media itu harus merupakan Perseroan Terbatas dan tidak boleh memakai yayasan, maka pada 19 Juli 2019, Yayasan Pena Rakyat diubah menjadi PT. BugisPos Tujua Utama dengan nomor AHU dari Menkumham AHU – 0034834.AH.0101-2019.
Dengan tagline Menulis Apa Adanya, BugisPos mengkampanyekan muatan lokal dalam setiap judul beritanya. Maka tak heran, jika kita sering membaca judul pada BugisPos seperti Matemija, Ciddako, Kodong, Macca, Pakintaki, Masumange dan lainnya.
Di HUT ke-27 ini, BugisPos akan tetap Menulis Apa Adanya dengan tetap mengangkat tutur-tutur muatan lokal yang ada di Sulawesi Selatan.












