Wajo

Talk Show di Lapangan Merdeka Sengkang, Pelaku Usaha Wajo Bidik Pasar Internasional

108
×

Talk Show di Lapangan Merdeka Sengkang, Pelaku Usaha Wajo Bidik Pasar Internasional

Sebarkan artikel ini

WAJO, BUGISPOS.com — Lapangan Merdeka Sengkang menjadi saksi lahirnya optimisme baru bagi pelaku usaha lokal, Jumat (27/2/2026). Sebuah talk show bertajuk “Potensi Kabupaten Wajo Menuju Pasar Internasional” mempertemukan agregator, buyer, akademisi, hingga organisasi pengusaha dalam satu forum strategis.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Meisya selaku Owner PT Wastra Indonesia, Lia dari Naralia Group Indonesia, serta Elos dari PT House Indo Group. Diskusi turut melibatkan KADIN Wajo, HIPMI, serta mahasiswa Fakultas Pertanian guna menyelaraskan teori akademis dengan praktik di lapangan.

Meisya, pengusaha Indonesia yang berbasis di Korea Selatan sekaligus pendiri Galeri Seni Wastra Indonesia di Seoul, memberikan apresiasi tinggi terhadap kualitas sutra Wajo. Menurutnya, produk lokal tersebut memiliki daya saing kuat di pasar global.

“Sutra dari Kabupaten Wajo ini adalah warisan budaya yang luar biasa serta perlu dilestarikan dan dipromosikan lebih luas,” ujar Meisya dalam forum tersebut.

Senada dengan itu, Lia yang merupakan salah satu dari 12 agregator terpilih oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia menegaskan komitmennya menjembatani pelaku usaha lokal dengan buyer internasional. Ia menyebutkan sejumlah agenda pameran luar negeri yang tengah disiapkan.

Produk potensial dari Wajo, kata Lia, direncanakan akan dibawa ke pameran internasional di Hong Kong, Vietnam, Thailand, hingga Jepang sebagai langkah awal penetrasi pasar global.

Suasana diskusi semakin dinamis saat sesi tanya jawab. Niswatuz Zakirah, mahasiswi Agribisnis Universitas Puangrimagalatung, melontarkan pertanyaan kritis terkait hambatan utama dan persiapan yang harus dilakukan pemula di dunia ekspor-impor.

Menanggapi hal itu, Elos menekankan bahwa tantangan terbesar bukan semata soal permodalan, melainkan mentalitas dan kapasitas produksi.

“Hal pertama yang harus disiapkan adalah mentalitasnya dulu. Ekspor itu tidak mudah, ekspor itu berat, jadi mentalnya harus siap dulu,” tegas Elos.

Ia membeberkan fakta bahwa sebagian industri rumah tangga di Wajo umumnya baru mampu melayani pesanan skala kecil, sekitar 50 hingga 100 kilogram. Sementara itu, permintaan pasar internasional kerap mencapai 5 hingga 10 ton per pengiriman.

“Wajo ini berpotensi besar sekali, namun harus disiapkan bahan bakunya. Tugas adik-adik mahasiswa adalah bagaimana caranya bahan baku di sini siap dan jumlahnya banyak,” ujarnya.

Diskusi juga menyoroti pentingnya peran mahasiswa Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan untuk tidak hanya memahami teori dasar, tetapi berfokus pada penguatan riset dan pengembangan (Research and Development/R&D) serta teknologi pengolahan hasil produksi.

Para narasumber mendorong agar mahasiswa dan pelaku usaha meningkatkan mutu serta nilai tambah produk sebelum melangkah ke tahap ekspor. Untuk sektor pangan seperti beras, misalnya, fokus utama dinilai masih pada penguatan swasembada dan suplai lokal maupun nasional.

“Fokusnya bukan soal ekspor atau impor dulu, itu masih jauh. Tapi bagaimana cara meningkatkan mutu hasil dari Kabupaten Wajo ini saja dulu,” pungkas salah satu narasumber.

Pertemuan ini ditegaskan bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi awal dari pendampingan teknis berkelanjutan agar pelaku usaha di Kabupaten Wajo benar-benar siap melakukan pengiriman perdana (first shipment) ke pasar internasional.