Makassar

Tauwwa, Remix Tradisi di Tangan Gen Z: Membedah Kesuksesan Makassar Menari 2026

×

Tauwwa, Remix Tradisi di Tangan Gen Z: Membedah Kesuksesan Makassar Menari 2026

Sebarkan artikel ini

BugisPos, Makassar — Suasana Trans Studio Mall (TSM) Makassar pada 29 April 2026 berubah menjadi lautan ekspresi. Merayakan Hari Tari Sedunia, perhelatan bertajuk “Makassar Menari: Dari Gunung-Pesisir Ke Panggung Dunia” sukses menyedot perhatian ribuan pasang mata. Sebanyak 400 penari, mayoritas dari generasi Z, menunjukkan bahwa tradisi bukan barang antik yang membosankan.

Wartawan kami berkesempatan mewawancarai Baghawan Ci, seorang Pengamat Seni Pertunjukan yang mengawal jalannya acara ini dari awal hingga akhir. Berikut petikannya:

Energi Baru dan Sinergi Masa Kini

Bagaimana Anda melihat atmosfer “Makassar Menari 2026” yang baru saja usai ini?

Baghawan Ci (BC): Luar biasa. Gegap gempita. Kita melihat penonton tumpah ruah dari jam 10 pagi sampai 10 malam. Yang paling membanggakan adalah keterlibatan sekitar 400-an penari yang didominasi Gen Z. Mereka membawa tema “Dari Gunung-Pesisir Ke Panggung Dunia” dengan sangat segar. Ini adalah bukti bahwa masa lalu dan masa kini bisa bersinergi. Tradisi tidak ditinggalkan, tapi diolah ulang dengan sentuhan baru sehingga terasa sangat relevan dengan zaman sekarang.

Acara ini dibuka dengan sangat sakral di Lobby Utama TSM. Bisa ceritakan momen tersebut?

BC: Betul, kami membukanya dengan Tari Klasik Pakarena. Menariknya, penarinya adalah 50 remaja, namun mereka didampingi langsung oleh Anrong Guru tari Munasiah Daeng Jinne dan pemusik legendaris Daeng Serang Dakko. Ini adalah simbol pewarisan. Ada pertemuan antara energi muda dengan kedalaman rasa dari para maestro.

Tari sebagai Bahasa Universal

Mengapa perayaan Hari Tari Sedunia ini begitu penting untuk dilaksanakan di ruang publik seperti Mall?

BC: Kita harus ingat sejarahnya. Hari Tari Sedunia ditetapkan UNESCO sejak 1982 untuk menghormati Jean-Georges Noverre, pelopor Ballet Modern. Maknanya dalam: tari adalah bahasa universal yang melampaui batas negara. Dengan mengusung konsep “Dance Flash Mob Ruang Publik” di TSM, kami ingin memberikan efek kejutan. Kami ingin menunjukkan bahwa seni bisa menjadi alat perdamaian dan pemersatu tepat di pusat keramaian masyarakat.

Ada momen unik saat senja di gerbang luar Mall. Bisa Anda ceritakan?

BC: Wah, itu salah satu puncak acara! Kami mengadakan Flash Mob Tari Pagellu Toraja dengan 100 penari di area outdoor saat matahari terbenam. Penonton takjub karena konsep site-specific ini baru pertama kali ada di Makassar. Menari tanpa panggung khusus, berinteraksi langsung dengan arsitektur dan pengunjung. Ini adalah cara baru melestarikan budaya.

Kolaborasi dan Masa Depan Industri Kreatif

Siapa saja pihak yang berperan di balik layar kesuksesan kolosal ini?

BC: Ini adalah hasil kerja kolektif. Digagas oleh alumni lembaga seni seperti KONRI, SMKI, SMKN 1 dan 2 Gowa, serta Civitas Academica FSD UNM Makassar yang bekerja sama dengan tim Marcom Trans Studio Mall. Ada juga koreografer muda kenamaan seperti Zaki dari Kazaki Art School dan Fathir lulusan ISI Surakarta. Kolaborasi ini melibatkan seniman, guru, pelajar, fotografer, hingga penulis budaya.

Apa makna penting dari gerakan “Makassar Menari” ini bagi identitas daerah kita?

BC: Pertama, ini adalah ekspresi budaya lokal yang hidup. Kedua, ini simbol kebanggaan identitas daerah. Ketiga, ini menciptakan ruang kolaborasi dan kreativitas. Tari kini bukan sekadar hiburan, tapi sarana diplomasi budaya. Di dunia global, seni tari adalah alat komunikasi internasional yang bisa membuat orang dari berbagai negara memahami budaya kita lewat bahasa gerak.

Apa harapan Anda untuk tahun-tahun mendatang?

BC: Saya berharap ini menjadi agenda tahunan dengan pengembangan yang lebih luas. Kita butuh lebih banyak workshop penciptaan tari kreasi, penulisan tari, hingga Dance On Screen (tari format video). Jika industri kreatif ini terus berinovasi, maka kesejahteraan para pelaku seni di “Dunia Tari” akan benar-benar tercipta.

Reporter: Redaksi Budaya-Rachim Kallo
Sumber: Baghawan Ci (Pengamat Seni Pertunjukan)
Foto: Dokumentasi Panitia Makassar Menari 2026