Bugispos, Mamuju – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Barat (KPwBI Sulbar) kembali memperkuat sinergi dengan insan pers melalui agenda Sipakada Media. Bertempat di Cafe Ruang Rindu, Mamuju, pada 8 Mei 2026, acara ini fokus pada diseminasi perkembangan ekonomi terkini di wilayah Sulawesi Barat.
Kepala Perwakilan BI Sulawesi Barat, Eka Putra Budi Nugroho, memaparkan bahwa perekonomian Sulbar pada Triwulan I 2026 tumbuh sebesar 5,33% (yoy). Meski tetap berada di zona positif, angka ini menunjukkan normalisasi dibandingkan capaian triwulan sebelumnya yang menyentuh 6,54% (yoy), serta sedikit di bawah rata-rata pertumbuhan nasional sebesar 5,61% (yoy).
Perlambatan ini secara garis besar dipicu oleh normalisasi permintaan ekspor dan dinamika pada sektor-sektor kunci:
Sektor Pertanian: Sebagai tulang punggung ekonomi, sektor ini melambat akibat program replanting (peremajaan) sawit yang berdampak pada produksi Tandan Buah Segar (TBS). Selain itu, cuaca buruk pada Januari-Februari turut menekan produksi kakao dan hasil perikanan.
Efek Domino: Melemahnya suplai TBS sawit berdampak langsung pada Industri Pengolahan (CPO) dan Sektor Perdagangan, yang juga dipengaruhi oleh penurunan penjualan otomotif.
Administrasi Pemerintahan: Mengalami kontraksi akibat kebijakan efisiensi daerah, termasuk penyesuaian Tunjangan Penghasilan Pegawai (TPP) serta kebijakan THR ASN daerah yang belum menyeluruh.
Di tengah tantangan tersebut, ekonomi Sulbar tetap resilien berkat akselerasi di beberapa bidang:
Sektor Konstruksi: Tumbuh pesat didorong oleh peningkatan Belanja Modal APBN untuk pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di seluruh wilayah Sulbar.
Konsumsi Rumah Tangga: Tetap kuat berkat momentum Ramadan dan Idulfitri, masa libur yang panjang, serta peningkatan pendapatan rumah tangga di sektor pertanian.
Konsumsi Pemerintah: Mengalami lonjakan signifikan melalui komponen Social Transfer In Kind (STIK). Hal ini dipicu oleh implementasi Program Makan Bergizi Gratis seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemakanan Gratis (SPPG) di Sulawesi Barat.
Investasi (PMTB): Realisasi proyek infrastruktur pemerintah dan investasi swasta menjadi motor penggerak, ditambah aktivitas peremajaan perkebunan yang masuk dalam kategori investasi non-bangunan.
“Meskipun dihadapkan pada tantangan peremajaan lahan sawit dan faktor cuaca, stabilitas konsumsi domestik serta keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) di daerah diharapkan mampu menjaga daya tahan ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan mendatang,” ujar Eka Putra.(*)












