Pos Sulbar

Bapperida Sulbar Dorong ki Hilirisasi Kakao dan Kopi untuk Tingkatkan Nilai Tambah dan Kesejahteraan Petani

×

Bapperida Sulbar Dorong ki Hilirisasi Kakao dan Kopi untuk Tingkatkan Nilai Tambah dan Kesejahteraan Petani

Sebarkan artikel ini

Bugispos, Mamuju – Sulawesi Barat memiliki potensi besar sebagai daerah penghasil kakao dan kopi. Namun, besarnya produksi dua komoditas unggulan tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah bagi petani dan perekonomian daerah. Kondisi inilah yang mendorong Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mempercepat strategi hilirisasi agar kakao dan kopi tidak lagi hanya dijual sebagai bahan baku, melainkan menjadi produk bernilai tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Komitmen tersebut ditegaskan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat saat menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Rekomendasi Core Competence Sulawesi Barat di Ruang RPJMD Kantor Bapperida Sulbar, Selasa (28/7/2026).

Kepala Bapperida Sulbar, Amujib, mengatakan penyusunan core competence daerah harus menghasilkan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan pembangunan yang berdampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi dokumen kajian.

Menurutnya, Sulawesi Barat memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis komoditas unggulan. Pada 2025, produksi kakao mencapai sekitar 66,1 ribu ton dari luas areal 140,9 ribu hektare, sedangkan produksi kopi mencapai 5,2 ribu ton dari lahan seluas 17,1 ribu hektare. Sektor pertanian juga masih menjadi penopang utama ekonomi daerah dengan kontribusi sekitar 47,73 persen terhadap struktur perekonomian Sulawesi Barat, sementara pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,36 persen.

Meski demikian, Amujib menilai tingginya produksi belum otomatis meningkatkan kesejahteraan petani. Tantangan utama saat ini adalah mengubah keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif melalui hilirisasi, inovasi, dan penguatan rantai nilai.

“Kita tidak cukup hanya meningkatkan produksi kakao dan kopi. Tantangan kita adalah bagaimana mengubah produksi tersebut menjadi produktivitas, nilai tambah industri, investasi, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan petani, dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat Sulawesi Barat,” ujar Amujib.

Ia menjelaskan, arah kebijakan tersebut sejalan dengan visi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, melalui Panca Daya yang menempatkan hilirisasi sebagai salah satu strategi utama pembangunan ekonomi daerah.

Melalui Panca Daya, pemerintah mendorong pengembangan industri pengolahan kakao dan kopi agar mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memperluas akses pasar, serta meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat nasional maupun global.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga diharapkan berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui bertambahnya pendapatan petani, berkembangnya UMKM, terbukanya lapangan kerja baru, dan percepatan pengentasan kemiskinan.

Bapperida juga menilai transformasi tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, peningkatan kapasitas petani, pelaku usaha, tenaga pengolah hasil, hingga generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun industri kakao dan kopi yang berkelanjutan.

Selain penguatan SDM, pembangunan infrastruktur produksi, fasilitas pascapanen, logistik, konektivitas digital, hingga industri pengolahan dinilai menjadi faktor pendukung agar rantai nilai kakao dan kopi terus berkembang.

Amujib menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan dunia usaha menjadi fondasi penting dalam mendorong inovasi sekaligus mempercepat implementasi hasil kajian ke dalam program pembangunan dan investasi daerah.

Ia berharap FGD tersebut menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan menjadi pijakan dalam penyusunan kebijakan pembangunan, sekaligus memperkuat posisi Sulawesi Barat sebagai salah satu pusat pengembangan kakao dan kopi nasional.

“Sulawesi Barat tidak ingin selamanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan baku. Kita ingin menjadi daerah yang menghasilkan nilai tambah, melahirkan industri, inovasi, dan wirausaha baru, sehingga petani memperoleh manfaat ekonomi yang semakin besar dari komoditas yang mereka hasilkan. Dari kebun kita membangun industri, dari komoditas kita menciptakan nilai tambah, dan melalui Panca Daya kita wujudkan Sulawesi Barat Maju dan Sejahtera,” pungkas Amujib. (*)