Bugispos, Mamuju – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Barat menggelar forum dialog bertajuk SIPAKADA MEDIA: Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam rangka Diseminasi Perekonomian Terkini. Acara yang berlangsung pada 24 September 2026 di Atrium Mall Maleo Town Square Mamuju ini bertujuan memperkuat keterbukaan informasi publik serta mempererat kerja sama BI dengan insan pers dalam mengawal pertumbuhan ekonomi daerah.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari KPw BI Sulawesi Barat, yaitu Rifky Adhitya (Deputi Kepala Perwakilan), Sofian Rendy Ardiansyah (Plt. Deputi Kepala Perwakilan), serta Ahmad Fikri (Analis Bank Indonesia). Dalam paparan tersebut, BI mengulas secara komprehensif perkembangan inflasi, dinamika perekonomian daerah terkini, hingga langkah strategis pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Perekonomian Sulawesi Barat pada triwulan II 2026 tercatat tumbuh sebesar 5,20% (year-on-year/yoy). Meski sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,35% yoy) dan berada tipis di bawah laju pertumbuhan nasional (5,29% yoy), kinerja ekonomi Sulbar dinilai tetap berada pada tren yang positif dan solid.
Perlambatan pada triwulan ini dipengaruhi oleh penurunan kinerja di sektor Pertanian khususnya penurunan produksi kelapa sawit/TBS serta kontraksi pada perikanan dan tanaman pangan sektor Industri Pengolahan akibat penurunan produksi CPO, serta sektor Perdagangan kendaraan. Namun, tekanan tersebut berhasil ditahan oleh akselerasi sektor Konstruksi dan Administrasi Pemerintahan, yang didorong oleh peningkatan belanja modal APBN untuk infrastruktur jalan, jembatan, dan gedung, serta pencairan tunjangan gaji ke-13 ASN.
Dari sisi pengeluaran, penahanan laju pertumbuhan terjadi seiring normalisasi Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah pasca-HBKN Ramadan dan Idulfitri. Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB/Investasi) serta kinerja Ekspor CPO tetap tumbuh terakselerasi, terimbas positif oleh kenaikan harga CPO global.
Secara keseluruhan, ekonomi Sulawesi Barat pada tahun 2026 diproyeksikan tumbuh pada rentang 5,20% hingga 6,20% (ctc), berada di atas proyeksi pertumbuhan nasional (4,90% – 5,70%). Memasuki tahun 2027, prospek ekonomi daerah diperkirakan makin menguat seiring membaiknya produktivitas pertanian, laju hilirisasi industri pengolahan, dan penguatan konsumsi masyarakat.
Laju inflasi di Sulawesi Barat tetap terjaga aman di dalam rentang target sasaran. Pada Agustus 2026, Sulbar mencatatkan inflasi bulanan sebesar 0,11% (month-to-month/mtm), inflasi tahun berjalan 2,28% (year-to-date/ytd), dan inflasi tahunan 2,29% (yoy). Angka inflasi tahunan ini berada jauh lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 3,19% (yoy).
Tekanan inflasi bulanan terutama dipicu oleh komoditas Ikan Cakalang dan Ikan Kembung akibat cuaca ekstrem yang membatasi aktivitas melaut nelayan, serta komoditas Cabai Rawit, Pisang, dan Telur Ayam Ras akibat penurunan pasokan daerah. Sebaliknya, penahan laju inflasi didorong oleh melimpahnya pasokan lokal dan daerah sekitar, yang berhasil menekan harga Tomat, Bawang Merah, Cabai Merah, Bawang Putih, dan Beras. Adapun di tingkat daerah, Kabupaten Mamuju mencatatkan inflasi tahunan sebesar 3,90% (yoy), sedangkan Kabupaten Majene tercatat stabil di angka 1,27% (yoy).
Untuk memelihara stabilitas harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan stakeholders terkait mengimplementasikan strategi 4K secara intensif:
Keterjangkauan Harga: Penyelenggaraan Pasar Murah dan pelaksanaan program GERAI (Gerakan Bersama Jaga Inflasi).
Ketersediaan Pasokan: Penguatan sarana prasarana pertanian dan perikanan, pendampingan klaster petani, serta pelatihan teknis budidaya.
Kelancaran Distribusi: Penandatanganan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), fasilitasi distribusi pangan, dan sinergi rapat operasional bersama Satgas Pangan.
Komunikasi Efektif: Pelaksanaan High-Level Meeting (HLM), Rapat Koordinasi TPID, hingga pelibatan ‘Da’i Pengendali Inflasi’.
Pemberdayaan UMKM via Blueprint Mandarpreneur Ecosystem
Dalam upaya meningkatkan daya saing produk lokal dan mendorong kemandirian ekonomi kerakyatan, BI bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mengembangkan UMKM melalui tiga pilar utama Blueprint Mandarpreneur Ecosystem:
Penguatan Fondasi Dasar: Meliputi pendataan legalitas usaha, kelembagaan, dan asesmen awal pendampingan.
Peningkatan Produktivitas dan Digitalisasi: Melalui pelatihan teknis, konsultasi usaha, digitalisasi pembayaran, serta pendampingan kapasitas.
Pembukaan Akses Pembiayaan dan Pasar: Mendorong fasilitasi pembiayaan produktif, kolaborasi perbankan, business matching, hingga ajang kejuaraan (championship).
Melalui sinergi berkala bersama media ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus mengawal stabilitas harga, memperkuat rantai pasok lokal, serta mengakselerasi daya saing ekonomi Sulawesi Barat secara inklusif dan berkelanjutan.
(**)




br






br
br






br
br
br