TNI Polri

Di Tengah Sawah, Babinsa Koramil 1406-08/Sabbangparu, Mengingatkan: Ketahanan Pangan Tak Lahir dari Seremonial

×

Di Tengah Sawah, Babinsa Koramil 1406-08/Sabbangparu, Mengingatkan: Ketahanan Pangan Tak Lahir dari Seremonial

Sebarkan artikel ini

WAJO, BUGISPOS.com — Ketahanan pangan tidak lahir dari slogan. Ia tumbuh dari sawah, dari kerja keras petani, dan dari kepedulian untuk hadir langsung di tengah mereka.

Pandangan itu tercermin ketika Babinsa Koramil 1406-08/Sabbangparu, Koptu Bakri, mendampingi panen padi bersama masyarakat di Dusun Caleko Alau Salo, Desa Wage, Kecamatan Sabbangparu, Kabupaten Wajo, Selasa (6/10/2026).

Advertisement

Bagi seorang Babinsa, berada di tengah petani bukan sekadar menjalankan tugas pendampingan. Sawah adalah ruang untuk melihat langsung denyut kehidupan masyarakat—bagaimana petani bekerja, apa yang mereka hadapi, dan apa yang mereka harapkan dari hasil pertanian.

Panen menjadi momentum penting. Tetapi bagi Koptu Bakri, perhatian kepada petani tidak semestinya berhenti ketika gabah telah masuk ke karung.

Petani adalah bagian penting dari kekuatan ekonomi masyarakat. Karena itu, semangat mereka menjaga lahan pertanian perlu terus dipelihara.

Babinsa Harus Hadir, Bukan Sekadar Mendengar Laporan

Persoalan pertanian tidak selalu terlihat dari laporan tertulis. Ada persoalan yang baru bisa dipahami ketika seseorang datang langsung ke sawah dan berbicara dengan petani.

Koptu Bakri memanfaatkan kegiatan panen untuk membangun komunikasi dengan masyarakat. Percakapan di tengah sawah menjadi cara sederhana untuk mengetahui kondisi dan berbagai kendala yang dihadapi petani di wilayah binaannya.

Kehadiran tersebut juga menjadi bentuk dukungan moral. Petani perlu tahu bahwa kerja mereka tidak berjalan sendirian.

Sebab, ketika petani kehilangan semangat, yang dipertaruhkan bukan hanya satu musim panen. Ada keberlanjutan produksi pangan dan ekonomi keluarga yang ikut terdampak.

Ketahanan pangan sering dibicarakan dalam skala besar. Namun fondasinya tetap berada di tingkat paling bawah: desa, sawah, dan petani.

Karena itu, menjaga ketahanan pangan berarti menjaga agar petani tetap mau dan mampu mengolah lahannya.

Koptu Bakri mengajak para petani untuk terus menjaga semangat bertani serta memanfaatkan hasil panen secara optimal. Ajakan itu mencerminkan pendekatan Babinsa yang tidak hanya hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan, tetapi juga membangun kedekatan melalui aktivitas sehari-hari.

Panen di Desa Wage pun berlangsung lancar dan penuh kebersamaan.

br
brbr
brbrbr