BugisPos, Makassar — Pagi, Senin 12 Januari 2026, pukul 07.14 saat saya memeriksa berita serta chat yang masuk, tiba-tiba masuk chat di WA saya dari Kak Irianto Amama yang tak asing lagi namanya di dunia jurnalistik.
“Assalamualaikum wr wb. Tabe. Saya Irianto Amama (maros) sahabat Usdar Nawawi (alm). Saya telah membaca habis artikel yang berjudul, “BugisPos = Usdar Nawawi. Luar biasa. Enak dibaca dan harus untuk mengenal dan mengenang pribadi sosok seorang pejuang media seperti almarhum.
Saya termasuk sahabatnya saat saya masih di Harian Fajar bersama ditugaskan ke Johor Malaysia kemudian “hijrah” ke Mingguan BINA BARU yang berganti nama menjadi Berita Kota Makassar (BKM).
Almarhum adalah sosok pekerja keras yang telah berhasil menghadirkan dan merekrut jurnalis muda seperti yang ada sekarang di jajaran BugisPos.com. Semoga arwah almarhum “tersenyum” melihat perjuangan para pelanjut BugisPos.com yang sampai detik masih eksis seperti judul artikel, ” BugisPos = Usdar Nawawi. Pesanku, teruslah berkarya untuk mencerdaskan jiwa para patriot pejuang pers.”
Chat yang Kak Anto yang dikirimkan saya balas dengan “Siap Kak…. senior ku… Saya Awing yang selalu partner dengan kak Ati (Alm),” jawabku.
Lalu kemudian saya meminta beliau agar dapat membuat tulisan pengalaman selama berinteraksi dengan Almarhum Usdar Nawawi utamanya BugisPos agar dapat saya himpun untuk menjadi sebuah buku.
Mungkin karena kedekatan Kak Anto kepada Almarhum, Beliau tak puas hanya dengan saling berbalas chat. Tak berselang lama, Kak Anto menelpon untuk mengkonfirmasi kesediaannya dan juga sedikit pengalaman beliau dengan Almarhum selama di Malaysia.
Semalam di Malaysia
Saya membuka cerita Kak Anto bersama Almarhum di Malaysia dengan lirik lagu Semalam di Malaysia” yang diciptakan Saiful Bahri dan dipopulerkan oleh grup band legendaris D’loyd.
“Aku pulang
Dari rantau
Bertahun-tahun di negeri orang
Oh Malaysia
Oh dimana
Kawan dulu
Kawan dulu yang sama berjuang
Oh kawanku
Inilah kisahku semalam di Malaysia
Kini rasa sunyi aduhai nasib apalah daya
Aku hanya seorang pengembara
Yang hina
Kekasih hatiku pun telah pula hilang
Hilang tak berpesan
Aduhai sayang apalah daya
Cinta hampa hidupku pun merana
Mana dia”
Mengapa lirik ini saya tuliskan, karena ini menggambarkan kisah Kak Anto dan Almarhum (Usdar Nawawi) selama di Malaysia, walaupun sebenarnya saya sedikit “Sotta” (sok tau) dan memakai trik Cocoklogi yang selama ini selalu berhasil.
Dalam kisahnya yang diceritakan melalui sambungan telepon, Kak Anto menceritakan dirinya bersama Almarhum sewaktu di Malaysia walaupun belum tentu semalam seperti judul lagu.
“Saya termasuk sahabatnya saat saya masih di Harian Fajar bersama ditugaskan ke Johor Malaysia menumpangi KM Athirah milik Kalla Lines pada waktu itu.”
“Itu yang saya ingat, waktu kita mulai kehabisan uang, almarhum berseloroh lebih baik kita ditangkap ini sebagai pendatang ilegal dan masuk lokap (penjara) agar dapat makan gratis,” ujarnya mengingat-ingat bahasa Melayu yang terasa asing bagi mereka berdua.
“Ada momen lucu juga sewaktu kita mau air dingin dan meminta es batu, orang di sana tidak ada yang tahu apa yang kita minta ternyata di sana namanya air keras, ku bilang mi itu, deh kah mau Ki ini na bunuh mau Ki na kasi air keras,” lalu saya dengan almarhum tertawa,” kata Kak Anto.di ujung telepon.
“Ada juga itu Dinda yang tak bisa ku lupa, ketika kita mau pergi jalan-jalan, orang di sana itu ternyata jalan-jalan tidak na tau, jalan-jalan itu pusing-pusing katanya. Langsung ki itu Almarhum nyeletuk, kita baru turun dari kapal masih mabuk laut na suruh Ki lagi pusing-pusing,” ujarnya tertawa.
“Masih banyak Dinda pengalamanku baik ketika di Bina Baru ataupun di tempat lain, saya ingat-ingat nanti pengalamanku untuk ku tulis,” tukasnya seraya berjanji akan bertemu suatu saat jika beliau ke Makassar.
