BugisPos, Bantaeng — Serikat Petani Alami (SPA) Butta Toa resmi melantik pengurus baru periode 2025–2028 di Balai Perpustakaan Daerah Kabupaten Bantaeng, Sabtu (8/11/2025). Pelantikan ini mengusung tema “Bergerak Bersama dalam Satu Komitmen untuk Kemajuan Serikat Petani Alami Butta Toa.”
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah pejabat daerah dan tokoh masyarakat, di antaranya Sekretaris Dinas Pertanian, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabid UMKM Dinas Koperasi, Anggota DPRD Fraksi PAN, Camat, Kepala Desa, perwakilan BPP Kabupaten Bantaeng, serta unsur organisasi kepemudaan dan jaringan komunitas tani dari Bulukumba dan Jeneponto.
Pelantikan dimulai dengan pembukaan resmi dan sambutan dari Pemerintah Daerah yang diwakili oleh Ir. Amriani, M.Si., Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng.
> “Sekitar 70 persen masyarakat Bantaeng berprofesi sebagai petani. Maka, kehadiran Serikat Petani Alami menjadi harapan baru — bukan hanya untuk membantu mengatasi kesulitan petani, tetapi juga sebagai motor penggerak menuju kedaulatan benih dan pupuk yang mandiri,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Sementara itu, Asniati Ningra, selaku penasehat SPA Butta Toa, mengingatkan bahwa kontribusi serikat ini telah lama terasa di daerah.
“Sejak 2019, Serikat Petani Alami telah menjadi bagian dari inisiatif Kabupaten Sehat. Bahkan menjadi titik kunjungan Bappenas dalam evaluasi pemenuhan indikator kesehatan lingkungan berbasis pertanian alami,” ungkapnya.
Prosesi ikrar dan pelantikan pengurus baru dipimpin langsung oleh Sakir, S.Pd.I., salah satu deklarator pendiri SPA Butta Toa.
Dalam orasi ilmiahnya, Wahyu, Ketua Terpilih SPA Butta Toa, menegaskan tiga arah utama gerak organisasi:
1. Memperkuat kapasitas anggota melalui pelatihan, inovasi, dan riset sederhana di lahan sendiri.
2. Membangun jejaring kemitraan strategis dengan pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha berorientasi keberlanjutan.
3. Mewujudkan kedaulatan petani dengan berpegang pada pengetahuan, solidaritas, dan kepercayaan diri.
> “Selama kita bekerja dengan hati, ilmu, dan kebersamaan — tidak ada yang mustahil,” ucap Wahyu optimis.
Pelantikan ini juga dirangkaikan dengan Dialog Interaktif bertajuk “Sinergi Pemerintah Daerah dan Komunitas Petani dalam Membangun Ekosistem Pertanian Organik Berkelanjutan.”
Empat narasumber dihadirkan dengan topik bahasan yang beragam:
Ir. Amriani, M.Si (Sekdis Pertanian) mewakili Bupati Bantaeng membawakan tema “Strategi Branding Daerah sebagai Produsen Pertanian Alami Organik.”
Muh. Nur (Kak Uro’), Ketua KSPS Bulukumba, membahas “Pentingnya Penguatan Organisasi Petani dan Pembangunan Jaringan.”
Suardi SR, Anggota DPRD Kabupaten Bantaeng, menyoroti urgensi peraturan daerah (Perda) Pertanian Organik untuk memperkuat landasan hukum petani lokal.
Wahyu, Ketua SPA Butta Toa, memaparkan sejarah dan kerja-kerja kolektif organisasi sejak berdiri hingga kini.
Kegiatan tersebut ditutup dengan seruan kolektif untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, komunitas tani, dan masyarakat sipil dalam membangun ekosistem pertanian organik berkelanjutan di Butta Toa Bantaeng.












