Oleh: Arwan D. Awing (Direktur BugisPos Group)
BugisPos, Makassar — Berbicara BugisPos tentu kita tak bisa terlepas dengan sosok Almarhum Usdar Nawawi (Semoga Allah melapangkan dan menerangi kuburnya), seorang guru, kakak dan orang tua bagi kami yang ada di suatu komunitas media yang berupaya menyuarakan nilai-nilai kearifan lokal serta budaya tutur di Sulawesi Selatan.
Menulis Apa Adanya yang menjadi ciri Almarhum ditelorkan pada tanggal 11 Januari 1999 dengan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers nomor 199/SIUPP/Menpen/1999 dengan bendera Yayasan Pena Rakyat.
Tidak mudah bagi Lelaki dari Tanjung Bira ini untuk membangun BugisPos di tengah krisis moneter yang menghantam Indonesia di medio 1998 hingga 1999 saat itu. Tekad kuat dan sedikit kata “nekat” yang membuat beliau memberanikan diri untuk menapak dunia penerbitan pers walaupun tampil dengan Apa Adanya yang menjadi identitas BugisPos hingga saat ini.
Layar biduk telah dikembangkan, Lelaki dari Tanjung Bira 27 Mei 1958 ini tentu malu untuk surut ke dermaga. Ia dengan gagahnya berdiri kokoh di kemudi BugisPos untuk mencari, mengumpulkan, menyunting, men-dummy dan menerbitkan berita dalam bentuk tabloid mingguan yang terkadang menurutnya menjadi tabloid Tempo.
“Yahh.. tentu tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak terbit,” ujarnya berseloroh kepadaku ketika menimba ilmu jurnalistik dari beliau.
Teringat dari mulutnya yang tak pernah berkata keras kepadaku, “Wan… Kita sebagai jurnalis itu, harus mengetahui yang sedikit dari yang banyak. Dari situlah kamu bisa bertanya serta mengembangkan menjadi berita dan tidak menjadi sotta (sok tahu).”
Dari situ lah saya menyimpulkan bahwa seorang wartawan itu harus memiliki basic pengetahuan tentang suatu masalah atau isu yang berkembang untuk diolah menjadi suatu berita. Tentu cara mengembangkan wawasan adalah dengan banyak membaca literatur yang ada.
Sehingga saya teringat kata-kata bijak seorang artis asal Australia Hugh Jackman yang mengatakan “Sebenarnya, saya lulus dari universitas sebagai jurnalis.” Yang artinya jurnalis itu harus mengembangkan dirinya dengan ilmu pengetahuan.
Tahun 1999 hingga tahun 2012, Usdar Nawawi yang dalam kode berita biasa dituliskan Una atau darna ini berjuang dan bergelut dengan penerbitan tabloid mingguan BugisPos. Segala daya dan upaya beliau lakukan agar benderanya tetap berkibar, walaupun kita di redaksi tahu bahwa terkadang tabloid yang telah naik cetak belum bisa kami ambil karena ongkos biaya cetak belum kamu lunasi.
Bahkan terkadang, beliau menjaminkan namanya untuk berutang kepada percetakan agar tabloid dapat kami ambil dan sebarkan untuk kemudian kami bayar saat masuk percetakan di Minggu berikutnya.
Tahun 2012, ketika era digital mulai merambah ke dunia media, Kak Usdar biasanya saya sapa begitu, membuat terobosan besar dan berani melakukan migrasi dari Tabloid BugisPos menjadi media berbasis online dengan nama BugisPos.com yang pada saat itu, sebagian pekerja media belum “ngeh” ke arah itu.
Beliau dengan visinya membangun BugisPos.com dengan ciri memuat tutur lokal bahasa-bahasa yang ada di Sulawesi.
“Kenapaki, Kak, pakai judul-judul seperti itu,” tanyaku suatu ketika.
“Begini Wan,” begini biasanya beliau menyapa saya membuka percakapan (rindu rasanya, Alfatihah). “Itu selaras ji dengan nama BugisPos, karena orang di perantauan itu, kalau ditahu dari Sulsel pasti dibilang orang Bugis. Itu mi kita harus dekatkan itu saudara-saudara ta di perantauan dengan tutur atau logat pasaran di sini,” jawab Kak Usdar menjelaskan.
Matemija, kodong, apapi poeng, ciddako, cilaka dan tauwwa menjadi trade mark tersendiri bagi BugisPos. Beliau menggebrak susunan atau tradisi di dunia jurnalistik pada saat itu dengan judul-judul ala ujaran Bugis atau Makassar dalam judul berita dan Alhamdulillah nya dapat di terima di masyarakat.
Ia juga selalu berpesan bahwa banyak orang yang menganggap bahwa wartawan adalah pekerjaan yang mudah dan menyenangkan, tetapi mereka lupa, wartawan itu turun sampai ke pelosok demi mendapatkan seonggok informasi penting bagi masyarakat.
“Informasi itu kalau kita kejar, manjat rumah orang, atau menyelam juga harus kita lakukan, jangan ko menjadi wartawan songkok guru, ketuk pintunya pejabat untuk silaturahmi, baru tidak ada ji berita mu” pesannya suatu ketika.
Separuh Napas
Minggu, 25 September 2022, pagi itu saya lagi bersantai bersama keluarga, tiba-tiba telepon saya berdering. Tertulis nama “Puang Ibu Memanggil” saya angkat telepon yang kemudian terdengar suara tangis, “Dek, tidak ada mi Kak Usdar mu.”
Separuh nafas ku hilang, bahkan separuh nafas BugisPos juga hilang bersama perginya arwah sang mentor ke hadirat Ilahi.
Aku menangis sejadi-jadinya, rasa itu sama ketika kedua orang tuaku”pergi”. Beliau pergi setelah menjalankan amanah dari orang tuaku yang menitipkan ku kepada beliau. “Pak Usdar, jaga Ki itu adek ta, bimbing ku, janganki suruh pergi merantau, karena sedikit-sedikit selalu pergi merantau, baru kepala batu Ki.”
Sang Mentor, guru, kakak dan juga orang tua telah pergi. Tak ada lagi teman diskusi, tak ada lagi nasihat dari guru kepada saya, murid bebal yang selalu tidak mau kalah “gea” (debat).
BugisPos juga separuh nafasnya hilang. Padahal ku tahu bagaimana perjuangan mu hingga BugisPos bisa hingga 25 tahun eksis. Tak banyak yang tahu, BugisPos.com pernah berganti nama Bugispos online.com karena ketiadaan biaya membayar hosting dan domain.
Namun dengan perjuangan beliau sehingga BugisPos bisa eksis hingga usia 25 tahun saat ini, walaupun kami tahu saat ini kami berjalan dengan sepenuh nafas kami, karena kami tidak bisa pungkiri BugisPos itu sama dengan Usdar Nawawi. Beliau telah pergi membawa nafas BugisPos, maka kami akan menjaga separuh nafas lainnya untuk eksis.
Pertemuan Imajiner
Pada suatu pertemuan imajiner, saya membangunkan beliau dalam lelap panjangnya.
“Kak, Bangun Ki sebentar, ada saya mau laporkan terkait perkembangan BugisPos,” ucapku.
“Bangunkan mi dek, lama mi tidur itu” celetuk Puang Ibu Istrinya yang telah tahu kebiasaan Kak Usdar yang sepanjang malam terjaga dan pagi hari baru beranjak ke peraduan namun kali cukup berbeda karena telah terlelap lama.
Beliau menggeliat sedikit, kemudian menggosok matanya yang agak berat untuk dibuka.
“Kenapa ko dek..?’ tanyanya singkat.
“Mau ka melaporkan perkembangannya BugisPos, tiga tahun terakhir,” jawabku.
“Apa itu,” jawabnya sekenanya.
“Sejak kita pergi, BugisPos sudah kerja sama dengan TV nasional, MNC Group, RCTI, Global TV dan MNC TV. Beberapa program RCTI seperti Indonesian Idol, X-Factor dan juga MasterChef, kak,” kataku menjelaskan.
“Selain itu, kak, ku laporkan ki juga, BugisPos saat ini telah membentuk holding atau grup media, ada Majalah Mitos, Tujua, NusantaraInsight, Koran Inspirasi Rakyat, Majalah Suar dan juga podcast Kareba Ojol dan nanti ada juga Mitos online,” terangku lagi.
“Tapi Kak, saya laporkan ki lagi, untuk kerjasama kemitraan pada tahun 2025 itu tidak seperti biasanya, ini disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya kondisi perekonomian di negara kita,” ujarku menambahkan.
“Saya laporkan ki lagi, ada beberapa Biro baru yang terbentuk dan juga ada beberapa Biro yang telah saya tutup, karena saya lihat kontribusinya tidak signifikan,” kataku lagi.
“Itu tiga poin penting yang saya laporkan, mungkin ada arahan dan masukan untuk kami di redaksi BugisPos,” tanya ku menutup laporan.
Kak Usdar kemudian memperbaiki letak duduknya, ia bersila di atas pembaringannya. Dia tampak berpikir sejenak lalu tersenyum kemudian mulai berbicara.
“Lanjutkan mi dek, apa yang telah kamu kerjakan, selama itu baik bagi BugisPos dan juga para wartawannya. Pesanku lagi ciri khas kita di BugisPos jangan sampai hilang,” jawabnya memberi pesan.
Kemudian ia melanjutkan, untuk BugisPos dapat menjadi jalan untuk meraup pahala yang sebesar-besarnya. Karena kerja kita di dunia jurnalistik itu juga harus sesuai dengan perintah agama.
“Ada sudah jelas mi tertulis itu di Alquran, di Surah Al-Hujarat ayat 6 yang bunyinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu,” sebut kak Usdar.
“Ini juga diperkuat di Surah Al-Ahzab ayat 70 yang bunyinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (dan tepat)”. Tuturnya menjelaskan jalan di dunia jurnalistik untuk mendapatkan jalan lurus menuju akhirat.
“Itu ji pesan ku, dek, jaga Ki BugisPos baik-baik, mau maka pergi istirahat lagi,” ucapnya sembari berbaring menghadap ke kiblat dan menutup matanya. Tersimpul senyum menemani tidur indahnya.
“Selamat tidur Kak, selamat beristirahat kamu tidak pergi, kamu ada dalam nama Bugispos dan sejarah telah mencatat itu.” Kata bergumam enggan mengusiknya seraya beranjak.
Masih banyak lagi yang akan saya tulis, namun tangan ini tak bisa lagi menuliskan, dada sesak, air mata mengapa tiba-tiba mengucur, mungkin ini salah satu tulisan yang berat untuk ku buat. Maaf kami kak, murid bebal mu yang selalu membuatmu marah. Melalui tulisan ini teriring doa buat mu, semoga engkau di sana, dilapangkan kuburnya, di terangi kuburnya dan segala amal ibadah diterima di sisinya.
Akhirul Kalam “SELAMAT ULANG TAHUN BUGISPOS KE-27 TAHUN” Semoga dengan bertambahnya usia semakin dewasa dan tetap Menulis Apa Adanya.
Makassar, 11 Januari 2026












