Bugispos, Sulbar – Rawana Mandar adalah salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Provinsi Sulawesi Barat, khususnya dari Suku Mandar. Rawana Mandar merupakan jenis alat musik membranofon yang terbuat dari kayu nangka atau cempaka, dengan kulit kambing.
Rawana Mandar memiliki beberapa fungsi dalam perkembangan seni dan budaya di Provinsi Sulawesi Barat yaitu sebagai alat musik pengiring tarian tradisional, untuk mengiringi dalam upacara adat, seperti perkawinan dan penyambutan, dan sebagai alat musik dalam pertunjukan seni bela diri. Ganrang besar yang digunakan dalam upacara adat penyucian dan pemberkatan benda-benda pusaka kerajaan.
Masyarakat Mandar telah mengenal musik tradisional sejak dahulu, musik tradisional ada bersamaan dengan lahirnya petani di Tanah Mandar. Alat musik tradisional Mandar yang masih eksis sampai sekarang dan hadir dalam berbagai pertunjukan di festival musik tradisional, dan acara besar tingkat Daerah ataupun Nasional seperti calong, gongga lima, keke, ganrang, dan kecapi Mandar. Model pertunjukan musik tradisional Mandar dilakukan dalam bentuk pertunjukan satu jenis alat musik (ansamble), pertunjukan berkolaborasi dengan alat musik tradisional Mandar atau dengan alat musik modern, dan model pertunjukan musik tradisional sebagai pengiring tarian (tu’duq).
Dalam perkembangannya pertunjukan musik tradisional Mandar mengalami kemajuan, diberbagai ajang festival Seni dan Budaya. Saat ini seniman muda Mandar mulai bangkit dengan mengeksplor permainan musik tradisional melalui berbagai platform media sosial.
Anjungan Provinsi Sulawesi Barat sangat mengapresiasi dalam pelestarian dan keberlanjutan seni musik Rawana Mandar, melalui pelatihan pendidikan Diklat Musik yang rutin diselenggarakan setiap minggu. Setelah Bulan Ramadhan usai, Diklat Musik kembali menjalankan diklat latihan reguler pada tanggal 29 Maret 2026 di Aula Anjungan Provinsi Sulawesi Barat, TMII.
Diklat musik tersebut akan selalu menjadi ruang khusus bagi peserta diklat yang terdiri anak-anak sekolah yang sangat antusias dan serius mempelajari musik tradisional Rawana Mandar bukan sekedar belajar tapi juga mereka secara tidak langsung mempelajari sejarah dan filosofi alat musik tersebut dan membuat generasi muda bisa lebih menghargai proses pelestarian suatu budaya harus melalui proses panjang serta diselaraskan dengan ketekunan yang kuat agar proses pembelajaran lebih berkualitas.
Diklat Anjungan Provinsi Sulawesi Barat juga selalu merencanakan program dan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan pendidikan tapi tetap dengan pakem standar tradisional alat musik Rawana Mandar tersebut, jadi proses pembelajaran Diklat musik akan selalu menyenangkan tapi tetap berjalan sesuai dengan standar proses pakem tradisional khas musik tradisional Mandar. Kegiatan ini selaras dengan program Pancadaya Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka khususnya untuk membangun Sumber Daya Manusia yang unggul dan berkarakter.
Pelatih Diklat Musik Anjungan Sulawesi Barat, Nawir mengemukakan, Rawana Mandar sering dikolaborasikan dengan instrumen lain, membentuk ansambel musik khas Sulawesi Barat.
“Rawana Mandar merupakan salah satu warisan budaya Sulawesi Barat yang perlu dilestarikan dan dijaga keberlanjutannya agar generasi muda tetap bisa mempelajari dan menikmati keunikan irama khas musik tradisional dari setiap harmonisasi irama tersebut di masa mendatang,” ucapnya. (*)












