BugisPos, Makassar — Komunitas Anak Pelangi (K-apel) berencana membuat gebrakan dengan menyelenggarakan Festival Kuliner Tradisional.
“Festival Kuliner Tradisional ini, Insya Allah akan kami selenggarakan di pertengahan bulan Agustus sekaligus merayakan HUT K-apel,” ungkap Founder K-apel Rahman Rumaday saat ditemui di Kafebaca, Sabtu (2/5/2026).
“Ide ini muncul, saat Kak Yudhistira Sukatanya menyinggung tentang Putu Mayang (kue tradisional yang terbuat dari singkong yang diparut dan diberi parutan kelapa dan gula merah) yang disajikan saat Diskusi Buku di Lorong Daeng Jakking beberapa waktu lalu. Yang menurut beliau, sudah sangat lama baru beliau menikmatinya lagi,” ungkap Rahman Rumaday yang akrab disapa Bang Maman ini.
“Dari Putu Mayang inilah, sehingga Kak Yudhistira, Kak Dewi Ritana, Kak Syahrir Patakaki dan Om Awing yang ketika itu kami lagi duduk menunggu dimulainya acara Diskusi Buku Senandung Sunyi memberikan ide untuk membuat festival kuliner tradisional saja. Alasannya sangat jelas karena di Pusat Pembelajaran K-apel di Lorong Daeng Jakking Kelurahan Parangtambung Kecamatan Tamalate, sudah menjadi budaya untuk menyediakan kuliner tradisional bagi tamu yang hadir,” beber pria berkacamata tebal ini.
“Tentu kami akan mengeksekusi ide menarik ini, tentu kami berharap masukan dari teman-teman untuk membicarakan lebih lanjut tentang konsep ataupun teknis acara nanti,” pungkasnya.
Senada dengan itu, Budayawan dan Sutradara Teater Sulsel Yudhistira Sukatanya menyampaikan bahwa Festival Kuliner Tradisional ini sangat penting artinya bagi warga di Lorong Daeng Jakking.
“Karena manfaatnya akan multi efek, selain dapat mengangkat nama Lorong Daeng Jakking sebagai pelestari kuliner tradisional, juga dapat meningkatkan income tambahan bagi warga. Apalagi, beberapa kue-kue tradisional sudah tidak pernah lagi kita cicipi. Buktinya saya sendiri, setelah sekian dekade baru lagi menikmati Putu Mayang, itupun di Lorong Daeng Jakking,” ujar Yudhistira Sukatanya.
“Tentu, nantinya Festival Kuliner Tradisional ini dapat dikemas lebih menarik dengan membuatkan semacam memo tentang nama kue, sejarah ataupun cara pembuatannya yang ditempelkan di masing-masing kue atau kuliner tradisional tersebut,” tambahnya.
“Saya berharap agar ini dapat terlaksana dan menjadi agenda utama dari K-apel pada perayaan HUT di Agustus mendatang. Jadi jangan mi perayaan yang seperti tahun sebelumnya, biasa mi itu, tahun beda Ki,” tutupnya yang diamini oleh beberapa rekan yang ikut berdiskusi.












