Makassar | BugisPos – Ikatan persaudaraan dan manfaat ilmu yang didapat dari bangku kuliah di Universitas Hasanuddin (Unhas) ternyata terus terasa dan bermanfaat meski sudah puluhan tahun menyelesaikan studi. Hal ini disampaikan Aminuddin, SH, MH, dosen sekaligus Wakil Ketua Yayasan Indonesia Timur, saat berbagi pengalaman dalam kegiatan Webinar Dies Natalis yang dihadiri dosen Unhas, alumni, praktisi, dan mahasiswa, baru-baru ini.

Bagi Aminuddin, ada dua momen paling membanggakan dan membahagiakan sepanjang perjalanan hidupnya yang berkaitan dengan almamater Universitas Hasanuddin. “Pertama, saat saya melihat pengumuman hasil UMPTN dulu. Tentu itu kebanggaan luar biasa bisa lolos dan diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Momen kedua yang tak kalah berharga adalah hari ini, bisa berbagi cerita dengan adik-adik mahasiswa, serta bersilaturahmi kembali dengan teman-teman seangkatan 1999,” ungkapnya penuh haru.
Setelah diwisuda dari Fakultas Hukum Unhas, perjalanan karier Aminuddin terus berlanjut. Saat ini ia berperan ganda, menjadi tenaga pengajar sekaligus pengurus Yayasan Indonesia Timur yang menaungi Universitas Indonesia Timur (UIT). Meski tidak sepenuhnya bekerja di ranah penegakan hukum seperti sebagian besar rekannya, ia menegaskan bahwa bekal ilmu hukum yang didapatkan di Unhas menjadi kunci utama dirinya mampu beradaptasi dan berkarier di bidang pengelolaan perguruan tinggi.
Dalam pemaparannya, Aminuddin menceritakan pengalamannya saat mengadakan sesi tanya jawab pada kuliah perdana. Pertanyaan yang selalu diajukan adalah alasan memilih Fakultas Hukum. “Jawaban mahasiswa sangat beragam. Ada yang memilih karena gelar Sarjana Hukum atau SH dianggap bergengsi. Ada juga yang sadar bahwa lulusan hukum memiliki peluang karier sangat luas, mulai dari hakim, jaksa, polisi, tentara, hingga berbagai profesi strategis lainnya. Saya yakin, adik-adik mahasiswa Fakultas Hukum Unhas pun memiliki alasan kuat yang sama,” tambahnya.
Pengalaman Aminuddin sendiri sedikit berbeda. Ia dipercaya menjabat Wakil Ketua Yayasan Indonesia Timur. Posisi ini sempat diembannya sebagai pelaksana tugas ketua saat ketua yayasan terpilih menjadi anggota DPR RI, sebelum akhirnya kembali menduduki jabatan wakil setelah pimpinan yayasan kembali memegang kendali. Mengelola yayasan dan universitas swasta adalah tantangan besar, mengingat sebuah kampus merupakan organisasi besar yang terdiri dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan pimpinan struktural.
Sebagai perguruan tinggi swasta, UIT memiliki dua kewajiban pertanggungjawaban. Secara akademik, kampus wajib melapor dan mengikuti standar yang ditetapkan Kementerian Pendidikan melalui Lembaga Layanan Dikti. Sementara secara non-akademik, seluruh operasional dan kebijakan bertumpu pada yayasan sebagai badan hukum penyelenggara. Di sinilah peran penting ilmu dasar seperti Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Hukum Indonesia yang dipelajari di Unhas sangat terasa manfaatnya. Ilmu tersebut melatih pola pikir, pemahaman aturan, dan kemampuan mengelola organisasi sesuai koridor hukum yang berlaku.
Aminuddin juga menyoroti perbedaan mendasar antara perguruan tinggi negeri seperti Unhas dan perguruan tinggi swasta seperti UIT dalam hal pengelolaan, khususnya penerimaan mahasiswa baru. “Unhas adalah kampus bergengsi dengan nama besar. Bahkan tanpa promosi pun, calon mahasiswa akan berebut masuk karena kualitas dan kepercayaan masyarakat sudah terbangun kokoh. Sangat berbeda dengan kami di swasta. Urusan penerimaan mahasiswa baru sangat kompleks dan menentukan keberlangsungan hidup kampus. Kami harus pintar menyusun strategi dan taktik agar tetap bisa bertahan,” jelasnya.
Untuk menjamin keberlanjutan dan pengembangan UIT, Yayasan Indonesia Timur berinovasi dengan mendirikan beragam unit usaha penunjang. Unit usaha tersebut meliputi rumah sakit, lembaga perbankan, usaha perhotelan, hingga supermarket. Keuntungan dari usaha-usaha ini dialokasikan untuk membiayai peningkatan kualitas pendidikan, fasilitas kampus, dan kesejahteraan sivitas akademika.
Di akhir pemaparannya, Aminuddin berpesan agar mahasiswa Unhas menyadari keberuntungan besar yang mereka miliki. Menurutnya, ilmu hukum bukan hanya bekal untuk menjadi penegak hukum, melainkan fondasi kuat untuk mengelola apa pun profesi yang ditekuni nanti. Kebanggaan pada almamater tidak hanya saat diterima atau lulus, tetapi saat lulusan mampu berkarya dan membawa nama baik Universitas Hasanuddin di mana pun berada.












