WAJO, BUGISPOS.com – Wacana penerapan sistem sekolah lima hari di Kabupaten Wajo dinilai berpotensi memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan, baik dari sisi akademik, sosial, maupun pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Wajo, Drs. H. Alamsyah, M.Si, mengatakan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar mengurangi hari belajar di sekolah, melainkan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.
Menurut Alamsyah, pengaturan waktu belajar yang lebih terstruktur memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan bermakna. Guru juga memiliki kesempatan lebih baik dalam menyiapkan materi pembelajaran sehingga penerapan konsep deep learning dapat berjalan optimal.
“Sekolah lima hari memberikan ruang bagi peserta didik untuk belajar secara lebih fokus dan berkualitas. Di sisi lain, guru juga dapat mengelola waktu kerja dengan lebih efektif sehingga proses pembelajaran menjadi lebih terarah,” ujar Alamsyah. Minggu (7/6/2026).
Ia menjelaskan, tambahan waktu libur dapat dimanfaatkan siswa untuk berbagai kegiatan positif seperti pengembangan bakat, olahraga, seni, keagamaan, maupun aktivitas bersama keluarga yang mendukung pembentukan karakter.
Selain itu, kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Dengan waktu kebersamaan yang lebih banyak, komunikasi antara orang tua dan anak dapat terjalin lebih baik sehingga pengawasan terhadap perkembangan belajar maupun karakter peserta didik semakin optimal.
“Peran keluarga merupakan fondasi penting dalam pendidikan. Melalui sistem sekolah lima hari, orang tua memiliki kesempatan lebih besar untuk mendampingi anak, menanamkan nilai-nilai budaya, agama, dan karakter yang menjadi bagian penting dalam proses pendidikan,” katanya.
Dari aspek sosial, Alamsyah menilai sistem tersebut dapat mengurangi tingkat kelelahan siswa, terutama bagi mereka yang berasal dari wilayah yang cukup jauh dari sekolah. Orang tua juga berpotensi menghemat biaya transportasi maupun kebutuhan harian sekolah.
Menurut dia, pola sekolah lima hari juga lebih selaras dengan sistem kerja yang telah diterapkan di berbagai instansi pemerintah dan lembaga lainnya.
“Keselarasan jadwal ini dapat membantu menciptakan ritme kehidupan keluarga yang lebih teratur. Siswa, guru, dan orang tua memiliki waktu yang lebih banyak untuk kegiatan sosial, budaya, maupun keagamaan,” ujarnya.
Terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Alamsyah menilai penerapan sekolah lima hari dapat mendukung efektivitas distribusi makanan bergizi kepada peserta didik. Pengawasan kualitas layanan dan pemenuhan standar gizi dinilai lebih mudah dilakukan dengan jadwal yang lebih terkontrol.
“Program MBG akan lebih efektif karena distribusi makanan dapat dikelola secara optimal. Dengan terpenuhinya kebutuhan gizi siswa, konsentrasi dan semangat belajar mereka juga diharapkan meningkat,” katanya.
Alamsyah menegaskan, wacana sekolah lima hari yang sedang berkembang di Kabupaten Wajo tetap akan mempertimbangkan berbagai aspek dan masukan dari masyarakat. Namun secara prinsip, kebijakan tersebut dinilai sejalan dengan upaya meningkatkan mutu pendidikan sekaligus menciptakan keseimbangan antara pembelajaran di sekolah dan pembinaan karakter di lingkungan keluarga.
“Tujuan utamanya adalah menghadirkan pendidikan yang lebih berkualitas, efektif, dan berpihak pada tumbuh kembang peserta didik. Kami berharap kebijakan ini nantinya dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia pendidikan di Kabupaten Wajo,” tuturnya.













