Makassar

Ketika Kata Menjadi Mantra, Bukan ji Baca-baca?

×

Ketika Kata Menjadi Mantra, Bukan ji Baca-baca?

Sebarkan artikel ini

BugisPos, Makassar — “Mau pergi ke mana Om,” tanya seorang wartawan kepada rekan wartawannya yang berpakaian rapi.

 

“Mau pergi di acara Bincang Buku Ketika Kata Menjadi Mantra karya Rahman Rumaday (Bang Maman),” jawabku.

 

“Buku apa Om ?” tanyanya lagi.

 

“Buku Ketika Kata Menjadi Mantra,” tegasku.

 

“Bukan ji itu Baca-baca,” balasnya kaget.

 

Tanya jawab ini muncul sesaat sebelum Buku Ketika Kata Menjadi Mantra karya Rahman Rumaday dibincangkan pada, Sabtu (18/7/2026) di Sunachi Claro Hotel.

 

Buku setebal 81 halaman isi dan 32 halaman pembuka, kata pengantar dan epilog ini menceritakan kisah penulis (Rahman Rumaday) yang bertemu kakeknya (Tete) dari Maluku yang akan kembali di kampung setelah sekian lama di kota daeng.

 

Sang Tete, tak ingin pulang sebelum menyampaikan ilmu yang dimilikinya kepada penulis.

 

Singkat cerita, penulis buku (Rahman Rumaday) kemudian membooking satu kamar hotel untuk “menerima” ilmu tersebut.

 

Hal ini disampaikan Rahman saat membawakan pengantar menjelang bincang buku yang menghadirkan Wakil Ketua DPRD Makassar Anwar Faruq, S.Kom.,M.M, sebagai keynote speaker dan pembicara di antaranya Guru Besar Filsafat Bahasa Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Mardi Adi Armin, M.Hum, Akademisi UMI Dr. Syafruddin Muhtamar, M.H, Ketua DPP Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Drs. Muhammad Amir Jaya dan Arwan D. Awing, SE seorang jurnalis.

 

Anwar Faruq dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada para sastrawan, penulis serta para pengusaha yang hadir pada bincang buku kali ini.

 

Ia bahkan menyebutkan bahwa sosok penulis buku Rahman Rumaday adalah sosok yang istimewa.

 

“Hal ini karena selain backgroundnya sebagai penulis juga tentu banyak dipengaruhi oleh para penulis, budayawan serta sastrawan yang hadir saat ini,” tukasnya.

 

“Bang Maman (Rahman Rumaday) ini, semua kegiatan dia bukukan. Bahkan pesan-pesan seorang kader di partai melalui WA dia bukukan juga. Cuma sayang undangan pernikahan belum dia bukukan,” ujarnya menggoda Maman.

 

“Untuk itu saya ucapkan terimakasih kepada bapak/ibu sekalian yang sempat hadir dan memberikan apresiasi kepada buku ini,” pungkasnya.

 

Bincang buku yang mengundang simpati dan apresiasi besar dari para peserta ini sebenarnya berlangsung menarik karena rasa penasaran dari isi buku ini.

 

“Sayangnya buku ini, tidak memuat mantra-mantra yang dimaksud,” tanya Andi Marliah usai membaca singkat buku ini.

 

“Buku ini masih misteri,” ujarnya bertanya.

 

Menanggapi hal itu, Penulis menyampaikan bahwa ia sengaja tidak menampilkan mantra-mantra dalam buku itu dan hanya menonjolkan kata, agar biarlah menjadi misteri dan menjadi mantra.

 

Sementara itu, Amir Jaya yang ditemui usai bincang buku, menanggapi buku ini, sangat terkesan bukan karena sampulnya manis, namun juga isinya yang banyak memuat quote-quote kehidupan, juga menampilkan pesan-pesan “Rahasia”.

 

“Buku ini penuh pesan-pesan “Rahasia”, ujarnya tanpa menjelaskan terperinci apa yang dimaksud Rahasia.