BugisPos, Wajo – Populasi ikan di Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, disebut semakin berkurang. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo menilai kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor yang berkaitan dengan perubahan ekosistem danau.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wajo, Andi Fakhrul Rijal B, mengatakan penurunan populasi ikan tidak bisa dilihat hanya dari satu penyebab. Kondisi perairan, aktivitas manusia hingga perubahan komposisi jenis ikan dinilai turut berpengaruh.
“Berkurangnya ikan di Danau Tempe tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor. Kita harus melihat kondisi danau secara keseluruhan, mulai dari kualitas air, sedimentasi, aktivitas pertanian, cara penangkapan ikan, hingga perubahan komposisi jenis ikan yang hidup di dalam danau,” ujar Andi Fakhrul Rijal B. Senin (31/8/2026).
Dia menyebut setidaknya ada lima faktor yang perlu menjadi perhatian dalam melihat penurunan populasi ikan di Danau Tempe.
1. Pendangkalan danau
Pendangkalan akibat sedimentasi membuat kondisi perairan Danau Tempe semakin dangkal. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan kekeruhan air.
Air yang keruh dinilai dapat memengaruhi kualitas habitat ikan serta mengganggu kondisi perairan yang dibutuhkan ikan untuk berkembang biak.
2. Bahan kimia dari aktivitas pertanian
Faktor lainnya adalah potensi masuknya bahan kimia dari aktivitas pertanian di sekitar wilayah tangkapan air Danau Tempe.
Penggunaan herbisida, pestisida dan pupuk kimia berpotensi terbawa aliran permukaan menuju danau, terutama ketika musim penghujan.
Selain itu, pengikisan tanah di kawasan hulu dapat membawa sedimen serta berbagai material di permukaan tanah ke badan danau. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas air dan kehidupan organisme perairan, termasuk ikan kecil dan anakan ikan.
3. Penangkapan ikan menggunakan setrum
Praktik penangkapan ikan menggunakan setrum juga menjadi perhatian. Cara tersebut dapat menyebabkan kematian ikan dalam berbagai ukuran, termasuk ikan-ikan kecil yang seharusnya dapat tumbuh dan berkembang biak.
Jika dilakukan terus-menerus, praktik tersebut dinilai dapat mengganggu regenerasi populasi ikan di Danau Tempe.
4. Populasi ikan sapu-sapu meningkat
Meningkatnya keberadaan ikan sapu-sapu di Danau Tempe juga perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan ekosistem perairan.
Ikan tersebut berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dan disebut dapat memakan telur ikan yang berada di dasar perairan.
“Jika populasinya terus meningkat, keberadaannya perlu dikaji dan dikelola agar tidak mengganggu keberlanjutan ikan lokal,” jelasnya.
5. Keberadaan ikan patin
Keberadaan ikan patin juga dinilai perlu diperhatikan. Sebagai ikan omnivora, patin dapat memanfaatkan berbagai sumber makanan dan dalam kondisi tertentu berpotensi memangsa organisme atau ikan berukuran kecil.
Andi mengatakan perubahan komposisi jenis ikan di dalam danau perlu menjadi bagian dari kajian pengelolaan ekosistem Danau Tempe.
Dia pun mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kelestarian Danau Tempe. Salah satunya dengan mengurangi aktivitas yang berpotensi mencemari perairan serta menghentikan praktik penangkapan ikan yang dapat merusak regenerasi ikan.
“Kalau kita ingin ikan di Danau Tempe tetap ada dan kembali melimpah, maka ekosistem danaunya harus kita jaga bersama. Menjaga danau berarti menjaga sumber kehidupan masyarakat Wajo,” pungkasnya. (adv)




br






br
br






br
br
br