Makassar

Apapi Poeng, Fosait Usulkan Empat Punggawa Sastra untuk Penghargaan 40 Tahun Berkarya

×

Apapi Poeng, Fosait Usulkan Empat Punggawa Sastra untuk Penghargaan 40 Tahun Berkarya

Sebarkan artikel ini

BugisPos, Makassar –  Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait) secara resmi mengusulkan empat Punggawa Sastra dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat kepada Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan untuk menerima penghargaan atas dedikasi 40 tahun berkarya di bidang sastra.

 

Usulan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Fosait, Muhammad Amir Jaya, melalui sambungan telepon pada Senin (4/5/2026).

 

Langkah ini diambil sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi dan kontribusi panjang para sastrawan tersebut dalam memperkaya khazanah literasi di Indonesia Timur.

 

“Kami mengusulkan nama-nama ini berdasarkan rekam jejak panjang, produktivitas, serta dedikasi nyata mereka yang telah malang melintang dalam dunia sastra selama empat dekade,” ujar Amir Jaya.

 

Berikut ini Sastrawan yang diusulkan :

1. Mahrus Andis (Sulsel)

2. Yudhistira Sukatanya (Sulsel)

3. Muhammad Amir Jaya (Sulsel)

4. Suradi Yasil (Sulbar)

 

Keempat tokoh ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda penulis di wilayah Indonesia Timur untuk terus menjaga semangat berkarya dan membumikan sastra di tengah masyarakat.

 

Hingga saat ini, pihak Fosait akan menindak lanjuti usulan tersebut ke Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan terkait proses verifikasi dan penganugerahan penghargaan tersebut.

 

Profil Singkat Sastrawan:

1. Mahrus Andis

 

Mahrus Andis adalah nama samaran (nama pena) dari Drs. H. Andi Mahrus Syarif, M.Si., seorang birokrat sekaligus penyair dan mubalig asal Makassar–Bulukumba. Ia lahir di Ponre, Gantarang Bulukumba, 20 September 1958, dan menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 1984.

 

Setelah menjadi asisten dosen di UNHAS, ia memilih kembali ke kampung halamannya dan bekerja sebagai Pamong Praja di Pemda Bulukumba sejak 1986. Dalam birokrasi, ia pernah memegang berbagai jabatan penting, seperti Kepala Bagian Organisasi, Kepala Bagian Hukum, Camat Ujung Bulu, Anggota DPRD, dan Kasubdin Sosial.

 

Di dunia kesenian, Mahrus Andis aktif sejak 1977 di Dewan Kesenian Makassar, menulis berbagai genre sastra seperti puisi, cerpen, naskah drama, esei, dan artikel budaya. Ia menghasilkan antologi puisi tunggal seperti “Bulukumbaku Gelombang Berzikir” (2001) dan beberapa karya lain yang menggabungkan tema birokrasi, sosial, dan religi.

 

Peran sebagai tokoh masyarakat

Selain birokrat dan penyair, ia juga dikenal sebagai mubalig (pendakwah) yang cukup kondang di daerahnya, sering mengisi ceramah dan kegiatan keagamaan. Di tengah kesibukan jabatan, ia tetap aktif menulis puisi dan berperan dalam kegiatan kebudayaan, termasuk mendorong pengakuan Hari Sastra Sulawesi Selatan.

 

2. Yudhistira Sukatanya

 

Yudhistira Sukatanya, juga dikenal sebagai Eddy Thamrin, adalah penulis dan sutradara teater senior asal Makassar, Sulawesi Selatan.

 

Ia aktif menulis artikel tentang pertunjukan seni lokal dan memulai karier menulis sejak SMA pada 1970-an, serta menjadi sutradara teater pertama kali pada 1978 dengan naskah Balada Pantai Kelabu karya Mochtar Abdul Rasul.

 

Ia pernah menjabat Ketua Harian Lembaga Pengembangan Kesenian dan Kebudayaan Sulawesi Selatan (LAPAKSS) periode 2018–2021, Pembina Dewan Kesenian Makassar, wartawan Tabloid Bintang Film di Jakarta, serta redaktur senior Majalah Seni dan Budaya Macca.

 

Penghargaan yang diraihnya termasuk Celebes Award Sulawesi Selatan (2022), Piagam Penghargaan Penggerak Literasi Sulawesi Selatan (2018), Kabar Makassar Awards (2020) untuk budayawan dan penulis sastra, serta Penghargaan Kategori Seni Budaya dari Pemerintah Kota Makassar (2022).

 

3. Muhammad Amir Jaya

 

Muhammad Amir Jaya adalah sastrawan dan penyair asal Sulawesi Selatan yang dikenal sangat produktif dalam berbagai genre, termasuk puisi, cerpen, novel, esai, dan karya anak‑anak.

 

Lahir di Tanaberu, Kepulauan Selayar, pada 9 September 1967 (ada sumber yang menyebut 1965, tetapi 1967 lebih luas dipakai).

 

Menyelesaikan pendidikan di IKIP Ujung Pandang (sekarang Universitas Negeri Makassar), dan kemudian menetap di Makassar serta aktif di dunia pers dan sastra.

 

Menghasilkan ratusan cerpen dan ribuan puisi, dengan puluhan buku antologi puisi, kumpulan cerpen, dan novel yang terbit sejak awal 2010‑an.

 

Mengusung tema religius dan tasawuf, misalnya dalam kumpulan puisi seperti “Puisi Rindu untuk Tuhan” dan “Engkau Api dan Aku Air”, yang menonjolkan nuansa spiritual dan perenungan batin.

 

Aktif sebagai pembaca puisi di acara‑acara sastra dan budaya, serta rutin membaca puisinya di Pro 4 RRI Makassar setiap minggu.

 

Sering diundang ke festival dan forum sastra, termasuk Festival Internasional Eight and Forum dan Festival Internasional Dragon Boat pada 2016.

 

Peran organisasi

Menjabat sebagai Ketua DPP Advokasi dan Pengembangan SDM di Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM) Sulsel, serta Ketua Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI) Sulsel. Juga menjadi Presiden Forum Sastra Indonesia Timur (Fosait) dan aktif membina komunitas penulis serta gerakan literasi di Sulawesi Selatan.

 

Secara umum, Muhammad Amir Jaya dikenal sebagai penyair relijius, cerpenis tempo, dan wartawan sastra yang menggantungkan hidup penuh dari menulis.

 

Ia memadukan dimensi sosial, spiritual, dan budaya Bugis–Makassar dalam puisi dan prosanya, sehingga menjadi salah satu sosok sentral dalam dunia sastra kontemporer Sulawesi Selatan.

 

4. Suradi Yasil

 

Suradi Yasil adalah budayawan, peneliti, dan penulis asal Mandar, Sulawesi Barat, yang dikenal luas sebagai tokoh literasi dan pengkaji budaya Mandar di Indonesia.

 

Ia Lahir di Limboro, Polewali Mandar pada 11 Mei 1945. Pendidikan formalnya berasal dari Universitas Hasanuddin (Unhas), dengan gelar BA Sastra Timur (1968), Sarjana Kesusastraan Indonesia (1978), Magister Ilmu Komunikasi (2009), dan Doktor Ilmu Linguistik (2018).

 

Pernah menjadi guru di SMEA Negeri Tinambung (1969–1977) dan peneliti di Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar (1977–2001).

 

Menulis cerpen, puisi, ensiklopedia, dan kajian budaya Mandar, termasuk “Ensiklopedi Mandar: Sejarah dan Tokoh” serta berbagai buku dan artikel tentang sastra dan tradisi Mandar.

 

Dipandang sebagai tokoh budayawan Mandar yang sangat dihormati, aktif mendorong literasi dan pengembangan karya sastra daerah.

 

Tetap produktif menulis hingga di usia lanjut, bahkan menerbitkan novel dan tampil sebagai pembicara diskusi literasi dan dakwah hingga usia pertengahan 70–80 tahun