BugisPos, Bantaeng – Viral di media sosialnya potongan video yang menampilkan gestur Raysen Wijaya Kusuma dan Zaenal saat pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 menuai sorotan dan keprihatinan sejumlah masyarakat Bantaeng.
Tindakan tersebut dinilai tidak semestinya dilakukan dalam suasana upacara kenegaraan. Sejumlah elemen dan lembaga kontrol sosial di Bantaeng pun turut menyampaikan kritik terhadap kejadian yang kemudian menjadi perhatian publik.
Menyikapi polemik tersebut, Raysen Wijaya Kusuma dan Zaenal akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Keduanya mengakui adanya kekeliruan dan menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan maupun mencoreng kehormatan simbol negara serta momentum peringatan kemerdekaan.
Raysen menyampaikan permohonan maaf kepada Bupati Bantaeng, jajaran Pemerintah Kabupaten Bantaeng, serta seluruh masyarakat Bantaeng.
“Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bupati, jajaran Pemerintah Kabupaten Bantaeng, serta seluruh lapisan masyarakat Bantaeng atas tindakan saya yang tidak seharusnya dilakukan pada peringatan upacara 17 Agustus,” ujar Raysen, Kamis (20/8/2026).
Ia menjelaskan, kemunculan dirinya dalam video yang beredar terjadi secara spontan ketika berada dalam konten vlog yang dibuat oleh Zaenal.
Raysen menegaskan, interaksi tersebut sama sekali tidak memiliki tujuan negatif, terlebih untuk merendahkan kehormatan negara ataupun mengganggu kekhidmatan upacara.
“Pada saat itu saya masuk dalam konten vlog atau video yang dibuat saudara Zaenal tanpa ada perencanaan sebelumnya. Itu murni bentuk interaksi spontanitas antara dua teman akrab dalam konteks komunikasi dan candaan secara santai,” jelasnya.
Ia juga menilai penting memberikan klarifikasi agar kejadian tersebut tidak berkembang menjadi informasi yang simpang siur dan menimbulkan persepsi lain di tengah masyarakat.
Raysen mengakui gestur yang ditunjukkannya tidak tepat, baik dari sisi tindakan maupun tempat dan momentum pelaksanaannya. Ia menyebut peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi sekaligus pelajaran bagi dirinya.
“Saya menyadari gestur tubuh yang saya tunjukkan tidak tepat dan dilakukan pada acara serta tempat yang tidak seharusnya. Ini menjadi pelajaran bagi saya secara pribadi,” katanya.
Sementara itu, Zaenal yang membuat dan merekam video tersebut juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang merasa terganggu maupun kecewa atas beredarnya video tersebut.
Zaenal mengakui dirinya kurang teliti dalam menyaring dan mengedit materi video sebelum dipublikasikan. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk kelalaian yang menjadi tanggung jawabnya.
“Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak di Bantaeng. Saya mengakui ini merupakan kesalahan saya karena kurang teliti dalam memfilter maupun mengedit video. Sekali lagi saya mohon maaf atas kelalaian saya. Ini menjadi pembelajaran bagi saya,” ucap Zaenal.
Permohonan maaf keduanya diharapkan dapat menjadi penutup atas polemik yang berkembang sekaligus menjadi pembelajaran bersama agar setiap aktivitas yang berlangsung dalam momentum kenegaraan tetap mengedepankan etika, penghormatan terhadap simbol negara, serta menjaga suasana khidmat upacara.




br






br
br






br
br
br