Makassar, NusantaraInsight — Bagi masyarakat Indonesia, 17 Agustus adalah simfoni kebebasan yang dirayakan dengan riuh kibaran merah putih. Namun bagi Ketua PWI Sulawesi Selatan, Suwardy Thahir, gemuruh kemerdekaan selalu membawa gaung yang jauh lebih personal. Di tanggal yang sama, saat bangsa ini mengutak-atik usia kebebasannya, Suwardy merayakan momen bertambahnya usia—sebuah kebetulan indah yang menautkan takdir pribadinya dengan sejarah negeri.
Di tengah suasana hangat yang dipenuhi gelak tawa, momen puncak peringatan itu berpusat pada sebuah tumpeng kuning yang menggunung. Didampingi istri tercinta, Hj. Farida Suwardy Thahir, prosesi pemotongan tumpeng berlangsung penuh khidmat namun intim. Jemari keduanya menyatu memegang pisau, memotong puncak tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas umur panjang dan pengabdian yang tak surut.
Suasana mendadak riuh penuh kehangatan saat Hj. Farida menyuapkan potongan pertama tumpeng tersebut kepada sang suami. Senyum merekah dari wajah Suwardy, menangkap ritme cinta yang telah menemani langkahnya, baik di rumah tangga maupun di tengah pusaran dinamika kewartawanan.
Kebahagiaan itu semakin lengkap dengan hadirnya sahabat-sahabat seperjuangan di PWI Sulsel. Tokoh-tokoh pers daerah seperti James Wehantouw, H. Mappiar, dan Ardhy M. Basir, Ihsan DJ, Rahman Hamzah ( TVRI ), Anwar Sanusi ( SMSI Sulsel ) tampak berbaur menikmati suasana. Tak ketinggalan, Ketua Dewan Kehormatan PWI Sulsel, Dr. M.Dahlan Abubakar, turut memberikan warna tersendiri lewat kehadiran dan petuah hangatnya. Kehadiran para pengurus ini menegaskan bahwa organisasi pers bukan sekadar wadah profesi, melainkan rumah kedua yang diikat oleh kekeluargaan erat.
Tak ada sekat antara ketua dan anggota hari itu. Pesta kecil tersebut mencair sepenuhnya saat mikrofon mulai berpindah tangan. Berbagai acara menyemarakkan syukuran ini, dengan karaoke bersama sebagai puncaknya. Dari lagu-lagu nostalgia hingga nada ceria meluncur, diiringi tepuk tangan dan tawa lepas para pengurus.
Bagi Suwardy Thahir, 17 Agustus bukan lagi sekadar peringatan sejarah bangsa, melainkan ruang untuk merayakan cinta istri, kesetiaan sahabat, dan semangat baru untuk terus memimpin PWI Sulsel ke depan. ( Ardhy M Basir )




br






br
br






br
br
br