Ragam Peristiwa

Kisah Cinta dan Dakwah di Atas Vespa: Pasutri Sigi Tempuh Jalur Lintas Pulau Demi Hadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah

×

Kisah Cinta dan Dakwah di Atas Vespa: Pasutri Sigi Tempuh Jalur Lintas Pulau Demi Hadiri Muktamar V Wahdah Islamiyah

Sebarkan artikel ini

BugisPos, Jakarta — Ada beragam cara untuk menunjukkan komitmen dan semangat ukhuwah dalam menghadiri perhelatan besar. Bagi pasangan suami istri asal Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, perjalanan menuju Muktamar V Wahdah Islamiyah di Jakarta bukan sekadar urusan menghadiri helatan nasional, melainkan petualangan spiritual dan syiar yang diukir di atas roda dua.

Ustaz Ahmad Hilir, yang mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPD Wahdah Islamiyah Sigi, bersama sang istri, Norma sebagai Sekretaris Departemen Pengembangan Usaha di Muslimah Wahdah Islamiyah (MWD) Kabupaten Sigi memutuskan menempuh ribuan kilometer menggunakan moda transportasi yang tak biasa, sepeda motor Vespa.

Advertisement

Bagi pasangan yang bergabung menjadi kader Wahdah Islamiyah sejak 2019 ini, perjalanan lintas pulau tersebut menjadi rekor tersendiri.

“Ini adalah touring perdana kami berdua bersama istri, yang juga mahram saya. Karena beliau juga utusan resmi dari Muslimah Wahdah Sigi, kami sepakat mengambil jalur darat dan laut,” tuturnya.

Perjalanan diawali dari Sigi menuju pelabuhan untuk menyeberangi Selat Makassar menggunakan kapal feri. Transit di Balikpapan, rintangan fisik pertama mulai menguji saat kapal yang mereka tumpangi hendak bersandar di Surabaya.

“Harusnya kami sudah tiba pukul 7 malam, tapi karena antrean kapal yang panjang, kami baru bisa bongkar muat jam 3 subuh. Mengantre kapal feri itu jadi salah satu tantangan terberat,” kenangnya.

Tak ingin membuang waktu, setelah beristirahat sejenak di Surabaya, perjalanan berlanjut pada Ahad (16/8/2026) siang melintasi jalur tengah Pulau Jawa menuju Yogyakarta.

Navigasi digital membimbing mereka melintasi kawasan kaki Gunung Lawu di ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. “Masya Allah, pemandangannya luar biasa, tapi udaranya sangat dingin menusuk tulang karena sedang puncak dingin-dinginnya,” kata Ahmad.

Karena hari sudah melarut hingga pukul 11 malam, mereka memutuskan menginap di Solo sebelum melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta, Bandung melalui Cianjur, Bogor, hingga akhirnya menjejakkan kaki di arena Muktamar Jakarta pada Kamis (20/8/2026) pagi dengan selamat.

Sepanjang jalan, Vespa yang dilengkapi spanduk bertuliskan “Touring Kemerdekaan RI 78/81 – Road to Muktamar V Wahdah Islamiyah” itu menarik perhatian warga lokal di pelbagai daerah yang mereka singgahi.

Banyak warga yang penasaran dan bertanya dari mana asal mereka serta agenda apa yang hendak dituju.

“Kalau ada warga lokal yang tanya, saya kelakar saja jawab: ‘Kami ini dari Sulawesi, dari Sigi, mau ke acara ormas terbesar ketiga di Indonesia!’” ujar Ahmad sambil tertawa.

Ia mengaku momen interaksi tersebut menjadi sarana syiar yang menggelitik sekaligus mengenalkan dakwah Wahdah Islamiyah kepada masyarakat awam yang sebelumnya belum pernah mendengar nama ormas tersebut.

Menutup perbincangan, ia membagikan pesan mendalam bagi para peserta Muktamar lainnya. Bagi seorang pengendara (biker), jarak dan angka di spidometer bukanlah tujuan utama.

“Jarak itu cuma angka. Yang paling berharga adalah pengalaman sepanjang perjalanan: merasakan letihnya, istirahat di warung-warung warga, dan berdialog langsung dengan masyarakat di sepanjang jalur. Siapapun bisa menirunya, yang penting adalah keikhlasan dan kebersamaan,” pungkasnya.

*Laporan: Humas Muktamar V MUI*

br
brbr
brbrbr