BugisPos.com, Makassar – [OPINI]
Oleh: Dr. Kristian H. P. Lambe (Dosen UKI Paulus dan Dewan Pakar PIKI Sulsel)
Di tengah riuhnya arena Ma’pasilaga Tedong, ada sebuah tanya yang sering kali terabaikan: Benarkah kita sedang merayakan tradisi, atau sedang membiarkan adat menjadi alas bagi meja judi? Sikap tegas Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja (BPS-GT) yang menolak praktik perjudian bukanlah sebuah upaya untuk “mengandangkan” budaya. Sebaliknya, ini adalah sebuah “Panggilan Batin” untuk membasuh wajah adat kita yang mulai kusam oleh debu-debu taruhan.
Tradisi: Antara Kehormatan dan Ambisi
Ma’pasilaga Tedong dalam ritual Rambu Solo’ sejatinya adalah narasi tentang penghormatan terakhir. Namun, ketika arena berubah menjadi transaksi rupiah yang liar, esensi luhur tersebut perlahan gugur. Kita sedang mempertaruhkan identitas demi kesenangan semu yang merusak tatanan ekonomi dan moral keluarga.
Sudah saatnya Polri mengambil peran lebih dari sekadar penjaga keamanan. Kita butuh aturan main yang jernih: Kembalikan arena kepada keluarga yang berduka. Jika hanya kerbau milik keluarga yang bertanding, celah bagi bandar judi akan tertutup dengan sendirinya. Namun, jika ritual suci justru difasilitasi menjadi “pasar taruhan”, maka hukum harus bicara demi menjaga marwah daerah kita.
Suara Profetis: Ketegasan yang Lahir dari Kasih
Langkah BPS-GT yang “berani tidak populer” adalah cermin dari kasih seorang bapak kepada anaknya; tegas menegur karena tak ingin melihat rumahnya hancur. Dalam kerangka Teologi Reformasi dan Sosiologi Agama, inilah lima pilar suara profetis Gereja:
-
Menyuarakan Kebenaran: Mengingatkan bahwa adat tanpa moralitas adalah tubuh tanpa jiwa.
-
Membela yang Rentan: Melindungi masyarakat dari jeratan kemiskinan akibat judi dan “penyakit” sosial lainnya.
-
Kritik Kenabian (Prophetic Criticism): Menantang otoritas yang membiarkan penyakit masyarakat merajalela demi kenyamanan politik semu.
-
Menjadi Garam dan Terang: Menjaga agar komunitas kita tetap memiliki “rasa” yang benar dan “cahaya” yang jernih di tengah perubahan zaman.
-
Shalom Toraja: Mewujudkan harmoni di mana iman Kristen dan kearifan lokal saling menyucikan, bukan saling meniadakan.
Penutup: Warisan yang Bersih untuk Esok Hari
Keputusan BPS-GT adalah ajakan untuk melakukan revitalisasi batin. Kita tidak sedang menghapus sejarah, kita sedang merawat masa depan. Kita ingin anak cucu kita mengenal Tedong sebagai simbol kemuliaan keluarga, bukan alat taruhan yang melahirkan lara.
Mari kita pulihkan Toraja, menjemput kembali marwah yang sempat tercecer, dan memastikan iman tetap menjadi kompas utama dalam beradat.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.












