BugisPos, Makassar – Ketidakpastian ekonomi global dinilai tidak menjadi penghalang bagi Indonesia untuk terus bertumbuh. Dengan bonus demografi yang didominasi generasi muda, Indonesia justru memiliki peluang besar menjadi kekuatan ekonomi dunia apabila mampu mencetak sumber daya manusia yang unggul, inovatif, dan berjiwa wirausaha.
Pesan itu mengemuka dalam kuliah umum APINDO Goes to Campus bertema “Membangun Generasi Entrepreneur dan Pencipta Lapangan Kerja di Tengah Ketidakpastian Global” yang digelar Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), di Ruang Senat Lantai 2 Gedung Rektorat Unhas Tamalanrea, Makassar, Senin (3/8).
Ketua Umum APINDO, Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan kondisi ekonomi global saat ini memberikan tekanan besar terhadap dunia usaha, mulai dari meningkatnya biaya produksi, melemahnya daya beli masyarakat, hingga perlambatan investasi dan penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, kondisi tersebut harus dipahami generasi muda karena akan memengaruhi peluang kerja dan arah pembangunan ekonomi nasional.
“Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh kekayaan sumber daya alamnya, tetapi oleh kualitas manusianya. Karena itu, kita harus membangun generasi yang memiliki keterampilan masa depan, mampu beradaptasi terhadap perubahan, serta memiliki keberanian menjadi entrepreneur dan pencipta lapangan kerja,” ujar Shinta.
Ia menjelaskan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia tidak otomatis menjadi keuntungan apabila tidak diiringi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kesenjangan keterampilan, rendahnya produktivitas tenaga kerja, serta belum selarasnya kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Shinta juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), yang mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Karena itu, generasi muda didorong terus meningkatkan kemampuan melalui proses upskilling dan reskilling, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kepemimpinan, adaptasi, dan pemecahan masalah.
Menurutnya, kewirausahaan menjadi salah satu solusi strategis untuk menghadapi tantangan tersebut. Indonesia dinilai memiliki ekosistem UMKM dan startup yang berkembang, namun masih membutuhkan lebih banyak wirausahawan yang mampu menciptakan inovasi sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
“Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang mampu mengubah talenta menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perubahan global melalui transformasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia usaha.
Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga harus dibekali keterampilan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan analitis, dan kecakapan menyelesaikan persoalan kompleks yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
“Masifnya perkembangan AI, transisi menuju green economy, dan perang talenta merupakan tiga mega-tren yang sedang membentuk masa depan. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan generasi yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi penggerak inovasi dan kewirausahaan,” kata Prof. Jamaluddin Jompa.
Ia menambahkan, hasil riset perguruan tinggi harus dihilirisasi menjadi teknologi, produk, maupun model bisnis yang memberi nilai tambah bagi industri dan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, Unhas terus memperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan bisnis kampus, hilirisasi riset, serta kolaborasi dengan dunia usaha.
Menurut Prof. Jamaluddin, kemitraan antara Unhas dan APINDO menjadi langkah strategis untuk mempersempit kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghasilkan riset yang lebih aplikatif sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa mengembangkan kompetensi sesuai dinamika ekonomi global.
Melalui kegiatan ini, Unhas dan APINDO menegaskan komitmennya membangun kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat untuk mencetak generasi yang mampu menghadapi disrupsi global sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.(din)













