JAKARTA, BUGISPOS.com — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) mengukuhkan Kelompok Kerja (Pokja) Newsroom Jaga Desa sebagai bagian dari komitmen memperkuat peran media dalam mengawal pembangunan desa. Program tersebut diposisikan sebagai upaya merawat desa sekaligus bagian dari ikhtiar menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kamis (27/8)
Ketua Umum SMSI Pusat, Drs. Firdaus, M.Si., mengatakan desa memiliki posisi strategis sebagai bagian penting dari pembangunan nasional.
“Saya setuju desa menjadi garda depan dan etalase negara, tidak menjadi entitas yang dinomorduakan,” ujar Firdaus dalam kegiatan pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta.
Pengukuhan tersebut digelar di tengah perhatian publik terhadap perkembangan situasi nasional dan derasnya arus informasi mengenai eskalasi demonstrasi di sejumlah wilayah. Kehadiran sejumlah tokoh dalam kegiatan itu, menurut SMSI, menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi publik dan memastikan informasi yang disampaikan media tetap berdasarkan fakta.
Tokoh pengusaha sekaligus salah satu penasihat ekonomi Presiden, Hasyim S. Djoyohadikusumo, hadir sebagai keynote speaker dalam dialog nasional yang digelar setelah pengukuhan.
“Saya percaya SMSI, saya mengapresiasi kegiatan ini karena itu saya datang,” kata Hasyim.
Menurut Hasyim, kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan kondisi Jakarta yang tetap berjalan aman dan kondusif di tengah berbagai informasi mengenai situasi demonstrasi.
“Ini bukan hanya konfirmasi, tetapi testimoni nyata di sini (Jakarta) aman dan kondusif. Selamat SMSI, ini kegiatan positif, dan sangat bagus,” ujarnya.
Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa melibatkan lima provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.
Firdaus menjelaskan, kelima provinsi tersebut menjadi daerah percontohan atau pilot project pelaksanaan program Newsroom Jaga Desa. SMSI selanjutnya akan melakukan konsolidasi untuk memperluas program tersebut ke seluruh provinsi.
“Lima provinsi ini menjadi pilot project SMSI, namun dalam waktu dekat akan dilakukan konsolidasi secara serentak di seluruh provinsi,” ujar Firdaus.
Dalam kesempatan tersebut, Hasyim mengingatkan insan pers agar menjalankan fungsi jurnalistik secara bertanggung jawab. Menurut dia, media memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Jangan menjadi pers yang menyesatkan. Sampaikan informasi secara utuh dengan data dan fakta,” kata Hasyim.
Ia juga menyoroti fenomena penyampaian informasi yang terlepas dari konteks. Menurut Hasyim, informasi yang tidak disampaikan secara utuh berpotensi menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat dan memengaruhi pemahaman publik terhadap kebijakan pemerintah.
Terkait persoalan tersebut, Hasyim mengatakan pihaknya telah mengagendakan dialog dengan sejumlah badan eksekutif mahasiswa (BEM), antara lain dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Masukan dari kalangan akademisi dan mahasiswa, kata dia, nantinya dapat menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi pemerintah.
“Sebagai penasihat Presiden, masukan-masukan dari kampus akan kami sampaikan dan rekomendasikan kepada Presiden untuk pembenahan,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Firdaus juga menyampaikan sejumlah gagasan terkait penguatan ekosistem pers nasional, termasuk kondisi Gedung Dewan Pers di Kebon Sirih, Jakarta.
Menurut Firdaus, gedung tersebut memiliki posisi penting sebagai pusat kegiatan dan aktivitas Dewan Pers. Namun, ia menilai fasilitas yang tersedia perlu ditingkatkan agar dapat mendukung kebutuhan konstituen Dewan Pers.
“Di tempat ini Dewan Pers bermarkas, segala kegiatan Dewan Pers digerakkan dari gedung ini, tetapi konstituen belum bisa diakomodasi. Jadi mereka (konstituen) terpisah-pisah sesuai dengan kondisi masing-masing,” kata Firdaus.
Hasyim merespons positif usulan tersebut dan menyatakan akan menindaklanjutinya dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
“Sayang saya baru dapat masukan ini sekarang. Kemarin baru saja bertemu dan dialog panjang lebar dengan Menkomdigi, Meutya Hafid,” ujar Hasyim.
Kegiatan pengukuhan dihadiri sekitar seratus peserta dan undangan. Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog nasional yang menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof. Dr. Achmad Riyad U.B., Ph.D., Dewan Penasihat SMSI Jawa Timur, serta pakar ekonomi dan perbankan.
Dialog dipandu Prof. Dr. Albertus Wahyu Rudhanto, yang juga dikenal sebagai guru besar pada Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK).
Forum tersebut membahas berbagai persoalan aktual, termasuk peran media dalam menyampaikan informasi publik secara akurat, kontekstual, dan bertanggung jawab.




br






br
br






br
br
br