BugisPos, Makassar- Pembinaan sepak bola usia muda di Kabupaten Luwu kini menjelma menjadi ‘pabrik bakat’ yang sangat diperhitungkan. Tampil menggebrak di ajang bergengsi, deretan bintang muda PS Luwu U-17 sukses mencuri perhatian para pemandu bakat (scout) papan atas tanah air.
Performa ciamik talenta muda Luwu ini memicu ketertarikan dari berbagai klub raksasa nasional yang berburu ‘berlian mentah’ untuk diproyeksikan ke level yang lebih tinggi.
Manajer PS Luwu, Suparmin Sabra, mengungkapkan bahwa gelombang ketertarikan klub-klub besar ini merupakan buah dari konsistensi dan peta jalan (roadmap) pembinaan berjenjang yang mereka bangun dengan rapi.
”Kami belajar dari Soeratin U-13 kemarin, kalau tidak salah ada empat pemain yang langsung diambil. Kemudian di kelompok U-15 yang sukses meraih juara satu, ada lima pemain yang masuk radar klub-klub besar nasional,” ujar Suparmin Sabra saat ditemui di NAF Kopi milik salah salah satu tokoh Luwu di Makassar.
Untuk kelompok umur U-17 saat ini, perburuan talenta dari pemandu bakat nasional terbilang kian agresif. Klub-klub ternama seperti Garuda Yaksa hingga program seleksi ketat PSM Talent secara khusus datang memantau aksi anak-anak Luwu.
”Banyak pihak dari tim-tim besar menanyakan pemain kami, termasuk dari Garuda Yaksa. Mereka memang sengaja datang untuk memantau langsung. Hitungan saya, ada sekitar enam pemain U-17 kami yang sangat berpotensi dipanggil ikut seleksi nasional,” kata Suparmin dengan nada optimistis.
Kendati kebanjiran tawaran, manajemen PS Luwu tak ingin gelap mata. Suparmin menegaskan pihaknya sangat berhati-hati dan tidak akan terburu-buru melepas sang pemain jika mental dan kualitasnya belum benar-benar matang.
”Itu tetap jadi pertimbangan mendalam bagi kami, apakah langsung diberi izin atau tidak. Ini menyangkut masa depan karier mereka saat naik ke top level. Fokus kami di PS Luwu adalah mematangkan mereka secara internal dulu. Kalau sudah benar-benar siap, baru kita beri jalan,” jelasnya.
Menariknya, Suparmin menegaskan bahwa kedalaman skuad PS Luwu U-17 saat ini merupakan 100 persen hasil godokan pembinaan lokal murni dari bawah, bukan pemain instan jebolan antarkampung (tarkam).
”Tidak ada pemain tarkam. Ini murni anak-anak Luwu yang berproses dari bawah—mulai dari Sekolah Sepak Bola (SSB), lalu ditempa di diklat. Kita punya wadah bernama Diklat LSS Belopa yang menjadi fokus utama pembinaan,” tegas Suparmin.
Kini, reputasi Diklat LSS Belopa kian meroket. Pesona wadah pembinaan ini bahkan menarik minat talenta-talenta muda dari luar daerah seperti Luwu Raya, Palu, Ampana, hingga Sulawesi Tenggara untuk ikut menimba ilmu.
”Alhamdulillah, grafik pembinaan tiga tahun terakhir di Kabupaten Luwu luar biasa pesat. Tidak heran kalau pemain-pemain kami selalu jadi incaran klub-klub yang berlaga di Elite Pro Academy (EPA) maupun kompetisi nasional lainnya,” pungkas Suparmin.(din)













