Oleh : Usdar Nawawi
Kuru Sumange Batalyon 120
BugisPos, Makassar — Batalyon 120 yang kini semakin populer akibat aparat salah gerebek di markas Batalyon 120 di Jl. Korban 40 Ribu Makassar.
Lebih populer lagi Batalyon 120 ini, lantaran Kanit Intel Polsek Tallo, Iptu Faisal, esok harinya dicopot dari jabatannya gara-gara tak profesional pemperlakukan Batalyon 120.
Kehadiran Batalyon 120, adalah ide caradde (cerdas) Kapolrestabes Makassar, Kombes Budi Haryanto, bersama Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto.
Jadinya, Batalyon 120 menjadi mitra kerja Forkopimda Kota Makassar dalam menekan angka kriminalitas di kota daeng ini.
Menarik sekali gagasan Kapolrestabes ini. Bahwa aparat kepolisian mesti mendekatkan diri ke tengah masyarakat. Mereka yang tergolong pelaku kriminal mestinya didekati untuk menyadarkan mereka, agar berhenti melakukan kejahatan. Apalagi di antara mereka banyak anak di bawah umur.
Kehadiran Batalyon 120, yang pengurus dan anggotanya dirangkul oleh Forkopimda Kota Makassar. Kemdian mereka ini selanjutnya berperan merangkul anak-anak di jalanan yang kerap melakukan kejahatan, seperti membegal, mejadi geng motor, pencurian, dan segala rupa kejahatan lainnya.
Tidak mudah merangkul mereka yang sudah rusak berantakan. Menyadarkan mereka untuk kembali menjadi orang baik-baik, bukan perkara gampang.
Yang bisa komunikasi dengan mereka, hanya dari mereka yang pengalaman kriminil yang bisa, yang saling tahu gerak tubuh masing-masinh. Yang saling paham isi hati dan karakter masing-masing. Maka jangan harap orang baik-baik bisa langsung merangkul mereka. Bisa-bisa dihadiahi anak panah.
Ternyata mereka barisan Batalyon 120 berhasil menekan angka kriminal.
Banyak pelaku kejahatan mereka rangkul, dan minta peralatan kejahatan mereka disetor ke markas Jl. Korban 40 ribu, antara lain busur, anak panah, parang, dan lain-lain, yang selanjutnya disetor ke Polrestabes Makassar.
Celakanya, Kanit Intel Polsek Tallo itu tak paham peran Batalyon 120. Dia pun celaka dua belas.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, mengatakan, Batalyon 120 ini hidup mandiri dalam menjalankan roda organisasi. Beli token listrik saja mereka akali dengan jual botol minuman.
Namun satu hal yang luput dari perhatian, ialah minimnya sosialisasi ke warga di sekitar markas ormas ini. Ketua RT setempat saja tidak tahu eksistensi mereka. Mestinya lurah camat mensosialisasikan mereka. Sebab mereka pasti tahu bila Batalyon 120 ini dikukuhkan oleh Wali Kota dan Kapolrestabes. Atau atau pura-pura tidak tahu? Wallahualam.
Bahwa kehadiran Batalyon 120, tentu diharapkan ke depan lebih berdayaguna. Mampu menekan lebih kuat jumlah kriminalitas di ibukota Sulsel. Dan tentunya masyarakat dengan mudah dapat membantu. Bukan malah bersikap apriori, dingin dan apatis **
Editor: Mahyul