BugisPos,Gowa – Generasi muda tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga karakter kuat dan kesehatan mental yang baik agar mampu menghadapi tekanan serta tidak mudah terprovokasi. Hal itu menjadi fokus dalam kegiatan Latihan Kader Bela Negara Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) di Kabupaten Gowa.
Kegiatan tersebut merupakan bentuk sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Gowa untuk membina pelajar dari berbagai sekolah sekaligus memperkuat kesadaran bela negara. Dalam pembinaan itu, peserta dibekali pemahaman tentang jati diri kebangsaan, karakter, serta pentingnya menjaga kesehatan mental.
Kepala Pusat Bela Negara Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, mengatakan para pelajar harus menjaga karakter dan budi pekerti agar tidak kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
“Melalui kegiatan latihan kader bela negara ini, para siswa diingatkan untuk menjadi generasi yang unggul. Karakter dan budi pekerti harus dijaga agar tidak kehilangan identitas sebagai bangsa dan negara,” kata Parluhutan, Jumat (23/10/2026) di Rindam XIV Hasanuddin.
Selain karakter, Parluhutan mengingatkan para pelajar agar bijak menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Menurutnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri dan identitas budaya bangsa.
Ia juga menegaskan bahwa tugas utama pelajar adalah menuntut ilmu serta mematuhi orang tua dan guru. Para siswa diingatkan untuk tidak terlibat dalam aktivitas negatif, seperti aksi begal, geng motor, maupun demonstrasi yang berujung kerusuhan.
“Tugas utama anak sekolah adalah belajar, belajar, dan belajar, serta patuh kepada orang tua dan guru,” tegasnya.
Sejalan dengan penguatan karakter, aspek kesehatan mental turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut.
Founder Gapapa Project sekaligus dokter dan pengamat kesehatan, Dr. Puspita Wijayanti, MMRS, memberikan materi mengenai pentingnya kesehatan mental bagi pembentukan generasi muda yang unggul.
Puspita menyoroti data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam periode satu tahun.
“Kesehatan mental bukan sekadar tidak adanya gangguan jiwa, tetapi juga kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya, mengelola emosi, menghadapi tekanan, dan tetap berfungsi secara baik dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Puspita.
Menurutnya, kesehatan mental berkaitan erat dengan kualitas belajar, produktivitas, serta kemampuan remaja dalam mengelola tekanan dan menghadapi berbagai persoalan. Remaja yang memiliki kondisi mental baik juga lebih mampu membangun relasi sehat dan mengambil keputusan secara bijak.
“Remaja yang memiliki kesehatan mental yang baik akan lebih mampu belajar secara optimal, membangun relasi yang sehat, dan mengambil keputusan dengan bijak. Karena itu, mereka perlu memiliki ruang yang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi,” katanya.
Sebaliknya, kondisi mental yang tidak terjaga dapat berdampak lebih luas, bukan hanya terhadap individu, tetapi juga terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Karena itu, upaya menjaga kesehatan mental perlu dimulai sejak remaja, sebelum gangguan berkembang menjadi lebih berat.
Puspita menilai akses terhadap layanan kesehatan mental juga perlu dibuat lebih mudah dijangkau, baik melalui lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar. Dukungan dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dinilai penting agar remaja merasa didengar dan tidak menghadapi masalah seorang diri.
“Pencegahan harus dilakukan sejak dini. Jangan menunggu sampai masalah menjadi berat. Sekolah, keluarga, dan lingkungan sekitar perlu bekerja sama menciptakan dukungan yang membuat remaja merasa didengar dan tidak sendirian,” tutur Puspita.
Pembinaan karakter dan kesehatan mental tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda agar memiliki ketahanan diri, berkepribadian kuat, serta mampu menghadapi tantangan di tengah perkembangan teknologi dan dinamika sosial.(dzl)




br






br
br






br
br
br