Jakarta, BugisPos— Ketua Gowa Creative City Forum (GCCF), Rahmat Raning, S.S., M.Hum., menghadiri rangkaian *The 5th World Conference on Creative Economy* (WCCE) 2026 yang berlangsung di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada 21–23 Oktober 2026.
Kehadiran Ketua GCCF periode 2026–2028 tersebut menjadi momentum untuk memperluas perspektif pengembangan ekonomi kreatif Kabupaten Gowa, sekaligus memperkuat semangat kolaborasi antarkomunitas, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kebijakan dalam membangun ekosistem kreatif daerah.
Mengangkat tema **”Inclusively Creative: Collective Continuity”**, WCCE 2026 mempertemukan para pemimpin dunia, pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, dan komunitas kreatif untuk membicarakan arah masa depan ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Konferensi internasional yang diinisiasi Indonesia sejak 2018 ini menjadi salah satu ruang strategis untuk mempertemukan kekuatan kreativitas lokal dengan perkembangan industri kreatif global.
Bagi GCCF, gagasan tersebut memiliki relevansi dengan masa depan Kabupaten Gowa. Daerah yang dikenal memiliki kekayaan sejarah, kebudayaan, tradisi, dan sumber daya kreatif ini menyimpan peluang besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan, kreativitas, dan kearifan lokal.
Rahmat Damar memandang bahwa pembangunan ekosistem kreatif tidak cukup hanya bertumpu pada penyelenggaraan kegiatan atau perayaan kebudayaan. Lebih jauh, dibutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan agar kreativitas masyarakat dapat berkembang menjadi kekuatan sosial dan ekonomi.
> “Gowa tidak kekurangan sejarah, kebudayaan, ataupun manusia kreatif. Tantangan kita adalah bagaimana seluruh potensi itu dapat dipertemukan dalam satu ruang kolaborasi, sehingga kreativitas tidak berhenti sebagai ekspresi, tetapi juga menjadi kekuatan yang memberi manfaat bagi masyarakat.”
Menurutnya, pengalaman dari forum internasional seperti WCCE menjadi pengingat bahwa pengembangan ekonomi kreatif harus dimulai dari pengenalan terhadap identitas dan karakter suatu daerah.
**Dari Gowa untuk Ekosistem Kreatif Dunia**
WCCE 2026 mencatat partisipasi 7.639 peserta dengan keterwakilan lebih dari 80 negara serta tujuh organisasi internasional. Salah satu hasil penting konferensi ini adalah pengesahan *Jakarta Vision on Creative Economy*, yang memuat komitmen bersama dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif global.
Dokumen tersebut menekankan sejumlah agenda strategis, antara lain pemanfaatan teknologi, pengembangan ekonomi kreatif yang inklusif, perlindungan kekayaan intelektual, keberlanjutan, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar bagi para kreator.
Menariknya, konferensi ini turut menghadirkan aspirasi komunitas kreatif daerah melalui Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Dalam sesi *Suara Ekraf Indonesia: From Voice to Action*, ICCN menyampaikan 10 Manifesto Suara Ekonomi Kreatif Indonesia kepada Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya.
Manifesto tersebut menegaskan pentingnya inovasi berbasis sumber daya lokal, penguatan kelembagaan, perlindungan pelaku kreatif, transformasi digital, serta keterlibatan komunitas daerah dalam menentukan masa depan ekonomi kreatif nasional.
Semangat itu sejalan dengan kebutuhan Kabupaten Gowa untuk membangun jejaring kreatif yang lebih terhubung, baik melalui pengembangan seni dan budaya, kriya, desain, penerbitan, industri digital, maupun usaha kreatif masyarakat.
Di tingkat daerah, Pemerintah Kabupaten Gowa juga terus mendorong peningkatan kualitas produk UMKM dan perluasan akses pasar. Komitmen tersebut kembali mengemuka dalam peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional di kawasan Istana Balla Lompoa, Gowa, pada 24 Oktober 2026.
Momentum ini menunjukkan bahwa penguatan ekonomi kreatif membutuhkan keterhubungan antara gagasan besar di tingkat global dan kerja nyata yang berlangsung di tengah masyarakat.
**GCCF dan Masa Depan Kolaborasi Kreatif Gowa**
Sebagai forum yang menghimpun semangat lintas komunitas, GCCF diharapkan dapat mengambil peran sebagai ruang temu berbagai unsur kreatif di Kabupaten Gowa.
Penguatan jejaring, pemetaan potensi kreatif, pengembangan kapasitas pelaku, perlindungan karya, hingga pembukaan akses pasar merupakan sejumlah agenda yang relevan untuk dikembangkan melalui kolaborasi bersama pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas.
Rahmat menilai bahwa kekuatan sebuah daerah kreatif tidak semata-mata diukur dari besarnya kegiatan yang diselenggarakan, melainkan dari kemampuannya membangun ekosistem yang memberikan ruang tumbuh bagi seluruh pelaku.
> “Kita ingin melihat Gowa tumbuh sebagai daerah yang tidak hanya bangga terhadap warisan masa lalunya, tetapi juga mampu mengolah warisan itu menjadi pengetahuan, karya, dan peluang bagi generasi mendatang. Kreativitas harus menjadi gerakan bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.”
Melalui momentum WCCE 2026, GCCF membawa semangat untuk terus membuka ruang perjumpaan dan kolaborasi dalam mengembangkan potensi ekonomi kreatif Kabupaten Gowa.
Sebab, dalam perkembangan ekonomi kreatif dunia, daerah tidak semestinya hanya menjadi penonton. Dari sejarah, kebudayaan, dan kreativitas masyarakatnya, Gowa memiliki kesempatan untuk turut mengambil bagian dalam membangun masa depan.
**Dari Gowa, gagasan bertumbuh. Melalui kolaborasi, kreativitas menemukan jalannya menuju dunia.**
—
*Dokumentasi: Ketua Gowa Creative City Forum, Rahmat Raning, S.S., M.Hum., saat menghadiri rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta.*
*Rilis: Gowa Creative City Forum (GCCF) | 27 Oktober 2026*




br






br
br






br
br
br