News

Dinas Pariwisata Makassar dan MAF “Pakintaki” dengan Menggelar Sea of Becoming – Maritime Arts Festival 2026

×

Dinas Pariwisata Makassar dan MAF “Pakintaki” dengan Menggelar Sea of Becoming – Maritime Arts Festival 2026

Sebarkan artikel ini

Makassar, BugisPos — Dinas Pariwisata Kota Makassar bekerja sama dengan Makassar Art Forum (MAF) akan membuat hentakan (Pakintaki) dengan menggelar Sea of Becoming – Maritime Arts Festival 2026 pada 27–29 November 2026 di Pelataran Menara Phinisi, Universitas Negeri Makassar (UNM), Makassar.

Ketua Yayasan MAF, Andri Prakarsa, menyampaikan rencana itu dalam konferensi pers di Kafe Macca, Makassar, Minggu (9/11/2026). Ia meneruskan pernyataan Kadis Pariwisata Kota Makassar Drs. Achmad Hendra Hakamuddin, S.STP. M.PA terkait acara ini.

Advertisement

Menghidupkan Sejarah Maritim

Mengusung tema “Makassar: Kota yang Terus Menjadi”, Sea of Becoming mengajak publik membaca kembali sejarah maritim Makassar sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi bagi penciptaan seni kontemporer. Laut dipahami bukan sekadar batas geografis, melainkan ruang perjalanan, pertukaran pengetahuan, perjumpaan budaya, dan pembentukan identitas.

Festival ini juga menyoroti jejak pelayaran Makassar menuju Marege’ serta hubungan historis dengan masyarakat Yolngu di Australia. Jejak tersebut dipandang sebagai gambaran hubungan lintas wilayah dan lintas budaya yang terbentuk melalui pelayaran, perdagangan, migrasi, dan interaksi antarmasyarakat.

“Makassar adalah kota yang terus menjadi—diperkaya oleh perjalanan, perjumpaan, dan seni,” ujar Andre Prakarsa.

Empat Perspektif Kuratorial

Gagasan festival diterjemahkan melalui empat perspektif kuratorial, yaitu Jejak Laut, Arus, Pertemuan, dan Menjadi.

Jejak Laut menghadirkan pembacaan sejarah maritim Makassar melalui arsip, peta, foto, dan dokumen sejarah.

Arus menafsirkan perjalanan, mobilitas, diaspora, dan pertukaran kebudayaan dalam bahasa seni kontemporer.

Pertemuan menyoroti hubungan antara tubuh, identitas, tradisi, dan kemanusiaan.

Menjadi membuka ruang refleksi dan dialog mengenai masa depan seni serta kebudayaan.

Keempat perspektif tersebut menjadi landasan bagi tiga program utama, yakni pameran, pertunjukan, dan forum dialog.

Program Festival

Program pameran mempertemukan pembacaan sejarah maritim dengan interpretasi kontemporer. Akan tersedia dua booth pameran arsip bertema Makassar sebagai kota maritim dan jalur pelayaran, enam instalasi dari enam seniman dengan pendekatan beragam, serta satu karya ikon interaktif berjudul Arus Menghubungkan.

Sementara itu, program pertunjukan menampilkan tiga karya mandiri dari bidang teater, musik, dan tari. Ketiganya dirancang memiliki karakter dan bahasa artistik masing-masing, namun dirangkai menjadi satu pengalaman pertunjukan yang saling terhubung.

Forum dialog menjadi ruang pertukaran pengetahuan melalui Bincang Karya, simposium, diskusi, pemutaran film, serta Membincang Festival. Kegiatan ini mempertemukan seniman, akademisi, peneliti, komunitas, dan publik untuk membahas sejarah, seni, kebudayaan, serta pengembangannya ke depan.

Seluruh program didukung fungsi riset dan pengembangan konten yang membangun referensi, menyusun materi editorial, mendokumentasikan pengetahuan, serta menyiapkan publikasi festival berupa buku atau katalog.

Edisi Pilot Menuju Platform Budaya

Sea of Becoming – Maritime Arts Festival 2026 merupakan edisi pertama sekaligus tahap pilot dalam peta jalan pengembangan Makassar Art Forum periode 2026–2030. Festival ini dirancang untuk menguji gagasan artistik, format pengalaman publik, dan potensi kolaborasi.

Dalam jangka panjang, MAF menargetkan Sea of Becoming berkembang menjadi Platform Kebudayaan Maritim yang mempertemukan riset, penciptaan seni, pertukaran pengetahuan, kolaborasi, dan jejaring kebudayaan. Pengembangannya juga didukung kegiatan pra-event berupa riset, publikasi, dan forum dialog berkala.

Berdasar nilai sipakatau, festival ini berupaya merawat penghormatan terhadap martabat manusia, keberagaman, dan hubungan antarkebudayaan.

Kontinuitas MAF

Makassar Arts Forum pertama kali diselenggarakan pada 1999 dengan semangat mempromosikan multikulturalisme, membangun interaksi antarseniman, serta memperkuat jaringan kehidupan kebudayaan dan kesenian sebagai bagian dari upaya desentralisasi.

Pada masa itu, MAF juga hadir untuk mendukung pemulihan citra Indonesia pasca krisis ekonomi dan politik. Semangat tersebut kini dilanjutkan melalui Sea of Becoming dengan menjadikan sejarah maritim Makassar sebagai titik berangkat riset, seni kontemporer, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas kebudayaan.

Dalam konferensi pers tersebut turut hadir Direktur Festival Makassar Art Forum Wildan Nomeru, kurator Asia Ramli Prapanca, Rusdin Tompo, dan Syam Kamil, Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Selatan (DKSS) Dr. Arifin Manggau, Bendahara MAF Djamal April Kalan, serta sejumlah pengurus MAF dan DKSS.

Melalui festival ini, MAF mengajak masyarakat tidak hanya mengenang sejarah maritim Makassar, tetapi juga turut menafsirkan dan membangun kelanjutan kebudayaan kota tersebut

br
brbr
brbrbr