BugisPos, Selayar — Dugaan aktivitas bongkar muat 285 drum yang diduga berisi BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar pada Minggu malam, 23 Agustus 2026, menuai polemik di masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dugaan ini diperkuat dengan adanya aktivitas mobil dumptruck pada malam hari yang membawa sejumlah drum dari APMS menuju Gudang Produksi Benteng, yang berlokasi di tengah Kota Benteng.
Aktivitas tersebut dipantau langsung oleh sejumlah awak media di Selayar saat bongkar muat berlangsung.
Tampak kelihatan saat Drum BBM yang diturunkan dari mobil truck menggunakan alas dari ban mobil agar tidak terbentur dengan aspal.
Berdasarkan pengecekan di lapangan, drum tersebut diangkut dari APMS ke gudang dan diduga berisikan BBM bersubsidi.
Menurut informasi yang diterima awak media, BBM tersebut akan disalurkan secara eceran ke pulau-pulau yang membutuhkan pasokan, mengingat tidak seluruh wilayah kepulauan memiliki akses langsung ke Pertamina/APMS.
Hal ini pertama kali disoroti media dan mempertanyakan asal, status kepemilikan, dasar penyimpanan, serta peruntukan ratusan drum tersebut.
Persoalan mencuat ketika jumlah BBM tersebut jauh di atas ketentuan. Jika kapasitas 1 drum 200 liter, maka 285 drum setara sekitar 57.000 liter.
Rinciannya diperkirakan 28.500 liter Pertalite dan 28.500 liter Solar. Padahal dalam ketentuan BPH Migas, kapasitas maksimal penyimpanan BBM untuk fasilitas Sub Penyalur hanya 3.000 liter.
Pada dasarnya masyarakat pulau tidak mempersoalkan jika mendapat akses BBM lebih mudah dan murah sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) subsidi.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, Mursalim, membantah adanya anggapan bahwa 285 drum tersebut digunakan untuk kegiatan penimbunan BBM.
Menurut Mursalim, drum yang berada di lokasi tersebut tidak berisi BBM.
“Drum itu tidak ada isinya,” tegas Mursalim saat memberikan penjelasan melalui Media Sosial Facebook, Senin (24/8/2026).
Ia menerangkan, gudang dan drum tersebut merupakan milik PT Bumi Maritim, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang sebelumnya dikenal sebagai PD Berdikari.
PT Bumi Maritim saat ini memang sedang dipersiapkan untuk mengambil peran sebagai penyangga distribusi BBM, khususnya untuk wilayah kepulauan.
Langkah tersebut dilakukan karena dalam penyaluran BBM kerap terjadi kondisi penyalur tidak mampu melakukan penebusan BBM.
Pemerintah daerah kemudian mendorong PT Bumi Maritim untuk dapat mengambil peran sebagai penyangga.
“Kita telah melakukan rapat dengan semua pemilik SPBU dan tentu saja dengan pihak Pertamina,” ujarnya.
Selain itu, PT Bumi Maritim disebut telah menetapkan bidang energi dan hilirisasi pertanian dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
Namun, kelayakan usaha tersebut masih dalam tahap kajian.
Mursalim menegaskan PT Bumi Maritim belum beroperasi sebagai penyangga BBM.
Perusahaan masih melakukan sejumlah persiapan, mulai dari pembenahan gudang hingga penyiapan drum. (Rasyid/*).




br






br
br






br
br
br