Ragam Peristiwa

Tekan Impor Solar, Menko Airlangga Sebut Program B50 Hemat Devisa Hingga Rp17 Triliun

×

Tekan Impor Solar, Menko Airlangga Sebut Program B50 Hemat Devisa Hingga Rp17 Triliun

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto/Sila)

BugisPos, Makassar – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kondisi fundamental perekonomian Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat dan solid.

Hal ini tercermin dari tingkat inflasi yang terjaga, ekspansi aktivitas manufaktur, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi yang terus menunjukkan tren positif di tengah ketidakpastian kondisi global.

Pernyataan tersebut disampaikan Menko Airlangga di sela-sela kegiatan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang diselenggarakan di Makassar, Sulawesi Selatan.

​Airlangga mengungkapkan indikator utama perekonomian menunjukkan sinyal yang sangat baik. Inflasi nasional berhasil ditekan hingga berada di level 2,88 persen, turun dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 3 persen. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga berada di level ekspansif, yakni di atas angka 50.

​”Kondisi ekonomi kita secara fundamental kuat. Kemarin baru diumumkan inflasi sudah 2,88 persen, turun dari 3 persen sebelumnya. PMI juga naik di atas 50,” ujar Airlangga di Makassar.

​Lebih lanjut, Airlangga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional masih akan berada di level yang sangat kuat. Ketika menanggapi kekhawatiran terkait potensi perlambatan ekonomi, ia menepis anggapan tersebut dengan menekankan daya tahan (resilience) ekonomi Indonesia yang mampu membentengi diri dari tren penurunan global.

​”Data mengatakan ekonominya tidak melambat, masih di kisaran 5,2 sampai 5,4 persen. Jadi Indonesia bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Walaupun global melambat di angka 3 koma, Indonesia tidak ikut global. Kita masih bisa menjaga resiliency ekonomi,” tegasnya, Selasa 4 Agustus 2026.

​Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini hingga kuartal ketiga dan keempat, Pemerintah fokus menjaga stabilitas harga energi nasional dan efisiensi devisa negara. Kebijakan penggunaan energi terbarukan seperti Biodiesel B50 juga terus didorong guna menekan ketergantungan pada impor minyak mentah.

​”B50 kan menentukan bahwa kita tidak perlu impor solar lagi. Dengan biodiesel 50 itu, penghematan devisanya bisa mencapai 17 triliun rupiah,” kata Menko Airlangga.

​Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga memberikan apresiasi khusus kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dinilainya sebagai tulang punggung utama pertahanan ekonomi nasional, khususnya di sektor makanan dan minuman.

​”UMKM Indonesia menjadi salah satu penyangga perekonomian, terutama terkait dengan sektor makanan dan minuman. Indonesia beruntung kita punya UMKM yang tangguh,” pungkasnya. (din)