BugisPos, Makassar – Pihak keluarga dan keturunan dari tokoh pejuang kemerdekaan Sulawesi Selatan, Nyampa Daeng Siama, mengusulkan kepada Pemerintah Kota Makassar agar nama kakek mereka diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Daeng.
Pengusulan tersebut disampaikan langsung oleh perwakilan keluarga dan ahli waris, Riswan Daeng Tompo, S.E. bin Jaenar Siama Daeng Jalling, yang merupakan cucu ke-5 dari Nyampa Daeng Siama.
”Itu harapan kami semua dari keturunan Nyampa Daeng Siama, bahwa bisa menjadi salah satu nama jalan di kota Daeng Makassar,” kata Riswan Daeng Tompo kepada awak media di Makassar, Minggu (23/8/2026).
Riswan menambahkan, pengusulan ini merupakan bentuk apresiasi dan penghargaan tertinggi atas dedikasi serta rekam jejak perjuangan kakeknya dalam membela kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
”Besar harapan kami agar Nyampa Daeng Siama bisa menjadi nama jalan sebagai apresiasi tertinggi dalam mengenang jasa pahlawan kakek kami,” imbuhnya.
Dikutip dari laman Wikipedia, Nyampa Daeng Siama, lahir 1 Januari 1914 – wafat 22 Juni 1989 merupakan pejuang kemerdekaan asal Kampung Soreang, Galesong. Ia lahir dari pasangan bangsawan Guliga Daeng Sila dan Kumala Daeng Caya, serta merupakan keturunan keenam dari Raja Tallo bergelar Tumenanga ri Tallo.
Dalam catatan sejarah perjuangan, Nyampa Daeng Siama memiliki peran strategis pasca-Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945. Bergabung dengan organisasi Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) pada akhir 1945, ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Perlengkapan/Logistik Perang.
Tugas dan perannya meliputi pengadaan serta distribusi senjata dan perbekalan untuk laskar rakyat, pengoperasian jaringan gudang senjata di wilayah Gowa, Takalar, dan Makassar, hingga terlibat langsung dalam pelatihan militer dasar bagi pemuda sukarelawan.
Selama periode 1945–1950, Nyampa Daeng Siama aktif dalam perang gerilya melawan pasukan NICA/Belanda serta terlibat dalam operasi sabotase. Ia juga menjadi penghubung penting antara posko KRIS, LAPRIS (Lipang Bajeng), dan simpatisan PNI.
Tak berhenti di situ, kontribusinya berlanjut pada masa pasca-kemerdekaan. Sebagai Komandan Muda Polisi, ia membantu TNI (Brigadir Mataram) menumpas pemberontakan RMS dan bekas pasukan KNIL pimpinan Kapten Andi Azis pada April–Agustus 1950. Kemudian pada 20 Juni 1951, ia turut memimpin operasi militer menghadapi pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan.
Dengan rekam jejak sejarah yang panjang tersebut, keluarga besar keturunan ADA’ Nyampa Daeng Siama berharap Pemkot Makassar dapat merealisasikan usulan pengabadikan nama tokoh pejuang ini dalam waktu dekat.(dzl)




br






br
br






br
br
br