News

Tabe, Resmi Tutup Festival Sastra Kepulauan IX 2026, Asia Ramli: Kita Bertemu di Festival Berikutnya

×

Tabe, Resmi Tutup Festival Sastra Kepulauan IX 2026, Asia Ramli: Kita Bertemu di Festival Berikutnya

Sebarkan artikel ini

BugisPos, Gowa – Ketua Teater Kita Makassar, Dr. Asia Ramli, resmi menutup Festival Sastra Kepulauan IX 2026 di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu malam, 19 September 2026.

Festival yang mengusung tema “Merawat Tradisi Puitik, Menautkan Keberagaman Kampung” itu berlangsung selama tiga hari, 18–20 September 2026. Kegiatan tersebut diisi 11 agenda utama, mulai dari kemah sastra, dialog, workshop, panggung sastra, pembacaan puisi, pameran dan peluncuran buku, hingga lomba penulisan puisi.

Advertisement

Ditemui usai acara penutupan, Asia Ramli yang juga dikenal dengan nama panggung Ram Prapanca menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival.

“Terima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras sejak perencanaan hingga berakhirnya acara. Terima kasih kepada para narasumber, juri, serta pihak-pihak yang mendukung,” kata Asia Ramli.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Dewan Kesenian Sulawesi Selatan dan seluruh mitra yang telah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival.

“Terima kasih kepada Dewan Kesenian Sulawesi Selatan yang telah memberikan dukungan, dan terima kasih kepada pihak-pihak yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,” ujarnya.

Menurut Asia, keberhasilan Festival Sastra Kepulauan IX tidak lepas dari kerja kolektif berbagai unsur. Tidak hanya panitia inti, tetapi juga relawan, narasumber, juri, peserta, serta komunitas seni yang datang dari sejumlah daerah di Indonesia.

“Festival ini bisa berlangsung karena kerja bersama. Ada panitia, relawan, narasumber, juri, peserta, dan banyak pihak lain yang ikut mengambil bagian,” tuturnya.

Antologi 62 Penyair

Salah satu agenda penting dalam festival tersebut ialah peluncuran antologi puisi Kata-kata yang Menyeberang. Buku itu menghimpun karya 62 penyair dari berbagai daerah, termasuk penyair dari Malaysia.

Asia mengatakan, peluncuran antologi merupakan tradisi yang terus dipertahankan dalam penyelenggaraan Festival Sastra Kepulauan.

“Antologi ini menjadi bagian penting dari festival. Kata-kata yang Menyeberang mempertemukan karya para penyair dari berbagai wilayah kepulauan,” katanya.

Ia menilai, penerbitan antologi tidak hanya menjadi dokumentasi kegiatan, tetapi juga memperluas ruang perjumpaan antarpengarang dan pembaca.

“Setiap karya memiliki latar kampung, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Semua itu kemudian bertemu dalam satu buku,” lanjutnya.

Ruang Pertemuan Sastra

Festival Sastra Kepulauan merupakan kegiatan tahunan yang digagas Sanggar Seni Teater Kita Makassar dengan dukungan lembaga kebudayaan, kebahasaan, akademisi, dan komunitas seni.

Sejak penyelenggaraan sebelumnya, festival ini menghadirkan sastrawan, penyair, akademisi, pelajar, mahasiswa, serta pegiat seni dari berbagai wilayah kepulauan Indonesia. Dalam beberapa edisi, festival tersebut juga melibatkan peserta dari Malaysia.

Asia berharap festival itu dapat terus menjadi ruang pertemuan bagi para pegiat sastra lintas daerah.

“Kita ingin festival ini tetap menjadi ruang bertemu, berdialog, belajar, dan berkarya. Bukan hanya untuk sastrawan yang sudah mapan, tetapi juga bagi pelajar, mahasiswa, dan generasi muda,” jelasnya.

Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu perhatian penting dalam setiap penyelenggaraan festival.

“Anak-anak muda perlu diberi ruang untuk membaca, menulis, tampil, dan mengenal tradisi sastra yang tumbuh di wilayahnya masing-masing,” ungkap Asia.

Digelar di Benteng Somba Opu

Pemilihan kawasan Benteng Somba Opu sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Kawasan bersejarah itu dinilai memiliki nilai penting sebagai simbol peradaban dan pertemuan budaya di Sulawesi Selatan.

Suasana kawasan bersejarah tersebut dianggap sesuai dengan semangat festival yang berupaya merawat tradisi puitik sekaligus menautkan keberagaman kampung melalui sastra.

“Benteng Somba Opu memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang kuat. Tempat ini mengingatkan kita bahwa perjumpaan antarkelompok dan antarkebudayaan sudah berlangsung sejak dahulu,” kata Asia.

Festival Sastra Kepulauan IX 2026 mendapat dukungan dari Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Teater Kita Makassar, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Makassar, Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan, Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, serta UPT Taman Budaya Sulawesi Selatan.

Kita Bertemu di Festival Berikutnya”

Menutup pernyataannya, Asia Ramli berharap Festival Sastra Kepulauan dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

Ia berkomitmen mempertahankan sejumlah agenda utama, seperti peluncuran antologi, dialog sastra, workshop, serta pelibatan generasi muda dalam kegiatan literasi.

“Kita akan terus menjaga tradisi ini. Semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi dengan karya-karya baru, peserta yang lebih banyak, dan semangat yang semakin kuat,” ujarnya.

Asia pun menyampaikan pesan singkat kepada seluruh peserta dan pendukung festival.

“Terima kasih atas kebersamaannya. Kita bertemu di festival berikutnya,” katanya.

br
brbr
brbrbr