BugisPos, Wajo — Kita terlalu sering meminta masyarakat menjaga lingkungan, sementara sampah dari rumah sendiri masih dilempar ke satu tempat sampah yang sama.
Kita memasang papan bertuliskan “Jangan Buang Sampah Sembarangan”. Kita membuat kampanye kebersihan.
Kita mengajak warga memilah sampah. Tetapi di rumah, sisa makanan, plastik, botol, daun, dan berbagai limbah lainnya sering berakhir dalam satu kantong.
Masalah sampah bukan semata-mata karena masyarakat tidak tahu. Barangkali kita terlalu banyak memberi tahu, tetapi terlalu sedikit memberi contoh.
Karena itu, langkah sederhana yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo patut mendapat perhatian.
Karena ia dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah ember di rumah masing-masing.
Para staf DLH Wajo sepakat menyediakan ember untuk mengolah sampah organik rumah tangga menggunakan ember biopori. Sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur yang biasanya langsung dibuang diarahkan untuk diolah menjadi kompos.
Tetapi persoalan lingkungan memang sering kali gagal diselesaikan bukan karena kita tidak memiliki gagasan besar, melainkan karena kita tidak mampu membangun kebiasaan kecil..
Ada satu kesalahpahaman yang terus hidup dalam cara kita memandang sampah: seolah-olah persoalan selesai ketika sampah keluar dari rumah.
Dari dapur ke tempat sampah. Dari tempat sampah ke kendaraan pengangkut. Dari kendaraan ke tempat pembuangan. Setelah itu, persoalan berubah menjadi persoalan lingkungan yang lebih besar.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak sampah yang berhasil diangkut pemerintah.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: berapa banyak sampah yang bisa kita cegah sejak dari rumah?
Di sinilah pengelolaan sampah organik menjadi penting.
Sisa makanan tidak selalu harus menjadi beban. Ia bisa menjadi kompos. Kulit buah tidak harus berakhir di tempat pembuangan. Sisa sayuran bisa kembali memberi manfaat bagi tanah.
Yang diperlukan bukan selalu teknologi mahal.
Kadang-kadang, yang paling sulit justru kemauan untuk memulai.
Pemerintah Harus Memberi Contoh
Langkah DLH Wajo menjadi menarik karena dimulai dari internal.
Dalam waktu dekat, Kepala DLH Kabupaten Wajo, Andi Fakhrul Rijal B, ST., MM., akan mendatangi rumah para staf untuk melihat penerapan pengelolaan sampah organik menggunakan ember biopori.
Ini bukan sekadar inspeksi terhadap keberadaan ember.
Lebih dari itu, ini adalah ujian sederhana terhadap sebuah komitmen.
Sebab, sangat mudah mengatakan peduli lingkungan di ruang rapat.
Jauh lebih sulit melakukannya setiap hari di dapur sendiri.
Seperti dikatakan Andi Fakhrul Rijal B, staf DLH tidak cukup hanya mengajak masyarakat. Mereka harus memberikan contoh terlebih dahulu.
Pemerintah memiliki posisi strategis dalam membentuk perilaku publik. Ketika aparatur yang sehari-hari berbicara tentang lingkungan benar-benar memilah dan mengolah sampah dari rumah, masyarakat mendapatkan pesan yang jauh lebih kuat daripada sekadar poster atau spanduk..
Keteladanan berbicara lebih keras daripada imbauan.
Jangan Berhenti pada Ember
Namun, di sinilah catatan pentingnya.
Jangan sampai gerakan ini berhenti pada pembagian ember, foto kegiatan, atau seremoni.
Sebab, lingkungan tidak berubah karena foto yang bagus.
Lingkungan berubah karena kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.
Ember biopori hanya alat. Yang menentukan keberhasilannya adalah perilaku manusia di belakangnya.
Apakah sampah organik benar-benar dipisahkan?
Apakah pengolahannya dilakukan secara rutin?
Apakah hasilnya dimanfaatkan?
Dan yang paling penting, apakah kebiasaan tersebut mampu menular ke keluarga, tetangga, hingga masyarakat yang lebih luas?
Jika jawabannya iya, maka satu ember memiliki arti yang jauh lebih besar daripada ukurannya.
Kita mungkin sudah terlalu lama menganggap persoalan sampah sebagai urusan pemerintah.
Ketika lingkungan kotor, pemerintah disalahkan.
Ketika tempat pembuangan penuh, pemerintah dituntut.
Ketika sampah menumpuk, petugas diminta segera mengangkut.
Padahal, pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar, tetapi masyarakat juga mempunyai tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri.
Sampah yang kita produksi adalah konsekuensi dari cara kita hidup.
Karena itu, perubahan harus dimulai dari sumbernya.
Jika satu rumah mulai memilah, itu langkah kecil.
Jika seratus rumah melakukan hal yang sama, dampaknya mulai terasa.
Jika ribuan rumah melakukannya secara konsisten, kita tidak lagi berbicara tentang kebiasaan individu.
Kita sedang berbicara tentang budaya baru.
Satu Ember, Sebuah Pesan Besar.
Pada akhirnya, gagasan DLH Wajo bukanlah tentang ember.
Ini tentang keberanian memulai.
Tentang kesediaan mengakui bahwa persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan menyuruh orang lain berubah.
Tentang kesadaran bahwa mereka yang mengajak masyarakat menjaga lingkungan harus terlebih dahulu menunjukkan bahwa ajakan itu bisa dilakukan.
Maka satu ember di satu rumah mungkin terlihat terlalu kecil untuk melawan persoalan sampah yang begitu besar.
Tetapi semua perubahan memang memiliki titik awal.
Bukan selalu dari kebijakan besar.
Bukan selalu dari anggaran besar.
Bukan pula dari teknologi yang rumit.
Kadang, perubahan dimulai dari tangan seseorang yang memilih tidak mencampur sisa makanan dengan sampah lainnya.
Dimulai dari dapur.
Dimulai dari rumah.
Dimulai dari kita sendiri.
Sebab, sebelum meminta warga berubah, pemerintah harus berani menunjukkan bahwa perubahan itu sudah dimulai dari rumahnya sendiri.
Dan mungkin, di tengah gunungan persoalan sampah yang kita hadapi hari ini, sebuah ember sederhana adalah pengingat paling jujur:
Jangan menunggu lingkungan berubah. Ubahlah kebiasaan kita terlebih dahulu




br






br
br






br
br
br