BugisPos, Makassar — Malam pekat 18 Oktober 1965, hujan deras mengguyur pinggiran kota tua. Suara truk militer berhenti di depan rumahnya, seorang tentara berteriak: “Tangkap Harmaun! Kader PKI, anggota Lekra, penulis Harian Rakyat!” Kisah tragis itu kini menjadi novel “HARMAUN” karya Andi Wanua Tangke (AWT), yang kembali mengisi rak literasi Indonesia setelah sukses bersambung di Harian Fajar selama tiga tahun.
Sebelumnya, AWT telah menerbitkan tiga kumpulan cerpen berjudul Panra’ka, Prajurit yang Nakal, dan Penari Istana. Seperti trennya sebagai jurnalis senior dan prosais, tulisan-tulisan ini melewati “kawah candradimuka” di media massa cetak maupun online.
“Sama halnya dengan novel HARMAUN ini, sebelumnya dimuat di Harian Fajar selama tiga tahun berturut-turut sebagai cerita bersambung,” ungkap AWT saat ditemui media ini, Senin (11/5/2026).
“Itu dimulai saat saya dihubungi Redaktur Budaya Harian Fajar untuk mengirim naskah cerita bersambung mengisi halaman koran terkemuka di Sulsel. Kira-kira tahun 2021, padahal saya belum punya naskah. Tapi ide sudah ada di benak. Saya sanggupi karena terbiasa deadline. Lalu saya kirim setiap Minggu hingga 2023,” kenangnya.
Proses membukukannya butuh satu tahun lagi. “Kendalanya, naskah dikirim per episode, jadi saya harus jahit puzzle agar jadi novel utuh,” lanjut penulis trilogi esai Cermin ini.
“Semoga novel HARMAUN jadi bacaan yang disukai sekaligus memetik pelajaran dari latar sejarahnya,” pungkas penulis buku laris Misteri Kahar Muzakkar Masih Hidup itu.
Sekilas Isi Novel
Novel setebal 178 halaman isi ini, diterbitkan Pustaka Refleksi (QRCBN 62-2338-6471-756), terdiri dari lima bagian. Ceritanya memadukan sejarah dan fiksi tentang Harmaun, penulis Harian Rakyat (PKI) sekaligus anggota Lekra—lembaga didirikan 17 Agustus 1950 di Jakarta, disebut berafiliasi PKI. Pasca-G30S/PKI 1965, Harmaun ditangkap, disiksa bertahun-tahun, dan menolak tuduhan: “Aku bukan kader PKI, bukan anggota Lekra! Aku hanya penulis di Harian Rakyat.”
“Buku ini memadukan cerita sejarah dan fiksi, menarik dibaca. Apalagi kisah ‘kiri’ yang tabu di Orde Baru,” ucap Dr. Asia Ramli (panggung: Ram Prapanca).
“Buku sangat layak dibaca,” timpal Yudhistira Sukatanya.












